Sensasi Melintasi “Jalur Tengkorak” Cilincing: Rawan Kecelakaan di Tengah Dominasi Truk Megapolitan 20 Januari 2026

Sensasi Melintasi “Jalur Tengkorak” Cilincing: Rawan Kecelakaan di Tengah Dominasi Truk
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        20 Januari 2026

Sensasi Melintasi “Jalur Tengkorak” Cilincing: Rawan Kecelakaan di Tengah Dominasi Truk
Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com —
Berkendara di kawasan Jakarta Utara kerap memicu rasa cemas, terutama bagi pengendara sepeda motor yang harus berbagi ruang dengan kendaraan-
kendaraan besar
seperti truk trailer dan kontainer.
Hampir setiap menit, truk berlalu lalang di wilayah Jakarta Utara, khususnya di sekitar
Pelabuhan Tanjung Priok
. Aktivitas bongkar muat yang tak pernah berhenti membuat arus kendaraan berat mendominasi sejumlah ruas jalan.
Cilincing menjadi salah satu kawasan yang setiap hari dilintasi kendaraan besar yang keluar-masuk Pelabuhan Tanjung Priok. Banyaknya depo truk trailer dan kontainer di wilayah ini membuat arus kendaraan berat terus mengalir tanpa jeda.
Selain menuju pelabuhan, sebagian truk juga mengangkut barang ke arah Cakung, sehingga harus melintasi kawasan Cilincing.
Kondisi inilah yang membuat wilayah tersebut hampir selalu dipenuhi kendaraan besar dan menjadikan sejumlah perempatan dijuluki sebagai “
jalur tengkorak
”.
Salah satu jalur tengkorak di wilayah ini berada di perempatan Cilincing, Jakarta Utara. Melintasi kawasan tersebut dengan sepeda motor bukan perkara mudah, terutama bagi pengendara yang baru pertama kali melintas.
Dari arah Pelabuhan Tanjung Priok menuju perempatan Cilincing, pengendara motor harus berbagi ruang dengan kontainer dan truk trailer berukuran besar.
Arus lalu lintas dari Jalan Raya Pelabuhan menuju Cilincing cenderung lancar, sehingga kendaraan ringan dan kendaraan berat kerap melaju dengan kecepatan tinggi.
Pengendara baru menurunkan kecepatan ketika mendekati perempatan Cilincing karena terdapat lampu lalu lintas. Meski lampu merah di perempatan tersebut masih berfungsi normal, kepatuhan pengendara terhadap rambu lalu lintas sangat rendah.
Pengendara dari arah Tanjung Priok ke Cilincing maupun sebaliknya kerap saling menerobos lampu merah dan beradu laju di tengah perempatan. Suara klakson saling bersahutan, menciptakan kebisingan yang kerap memicu emosi.
Benturan arus kendaraan di tengah perempatan membuat lalu lintas di jalur tengkorak ini kerap kacau dan berujung kemacetan. Kondisi tersebut membuat pengendara sepeda motor sering terjebak di antara kendaraan berat.
Pengendara motor terpaksa melaju di ruang jalan yang sempit karena sisi kanan dan kiri dipenuhi truk besar. Jarak antara ban motor dan roda kontainer kerap hanya sejengkal tangan, menjadikan perempatan ini terasa mengancam.
Jika tidak berhati-hati, pengendara motor sangat rentan terlibat kecelakaan dengan kendaraan besar yang melintas di sekitarnya.
Selain harus ekstra waspada, menerobos lampu lalu lintas di lokasi ini seolah telah menjadi kebiasaan. Budaya tersebut secara tidak langsung memaksa pengendara yang ingin mematuhi aturan untuk ikut melanggar.
Saat
Kompas.com
mencoba menunggu lampu hijau di perempatan Cilincing, pengendara lain justru tak sabar dan terus membunyikan klakson. Klakson yang dibunyikan berulang kali seolah menjadi tekanan agar semua kendaraan ikut menerobos lampu merah.
Akhirnya, Kompas.com terpaksa ikut melintasi perempatan saat lampu merah bersama kendaraan lain yang tak sabar menunggu.
Pengendara bernama Syam (42) mengaku hampir selalu menerobos lampu merah setiap melintas di perempatan tersebut.
“Saya jujur aja sering trobos, karena kalau enggak saya yang diklaksonin, semuanya pada enggak sabaran, jadi ya enggak ada pilihan lain,” tutur dia ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Senin (19/1/2026).
Meski sudah terbiasa, Syam mengaku tetap merasa takut setiap kali harus menerobos lampu merah, terlebih ketika sepeda motornya harus berhadapan langsung dengan truk berukuran besar.
Ketidaksabaran pengendara untuk menunggu lampu hijau membuat kecelakaan kerap terjadi di kawasan tersebut.
“Iya, karena saling trobos itu jadinya di sini ya sering
rawan kecelakaan
, paling sering sih truk trailer sama motor,” ucap Syam.
Pengendara lain, Arafiq (46), juga menilai perempatan Cilincing sebagai titik rawan kecelakaan.
“Di sini rawan kecelakaan, sebenarnya takut, tapi udah biasanya kayak gini. Polisi paling pagi atau sore,” kata dia.
Arafiq menilai, minimnya penjagaan aparat di luar jam tertentu membuat pengendara tidak segan melanggar aturan lalu lintas. Ia berharap kondisi lalu lintas di perempatan Cilincing segera dibenahi agar lebih tertib dan aman.
Kepala Suku Dinas Perhubungan Kota Administrasi Jakarta Utara, Rudy Saptari Sulesuryana, menjelaskan bahwa status perempatan Cilincing sebagai jalur tengkorak tak lepas dari dominasi kendaraan berat.
Truk dan kontainer berukuran besar kerap memakan badan jalan dan memicu kemacetan. Di sisi lain, banyak pengendara melaju dengan kecepatan tinggi, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.
“Pengendara sepeda motor memiliki kecenderungan mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang relatif tinggi, dengan begitu potensi kecelakaan juga akan meningkat,” tutur Rudy saat dihubungi
Kompas.com
, Senin.
Kondisi lalu lintas yang rawan kecelakaan membuat Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara melakukan sejumlah upaya penanganan. Salah satunya dengan menempatkan petugas di perempatan Cilincing pada jam-jam sibuk.
“Dalam penanganan arus lalu lintas di simpang tersebut, kami sudah menempatkan petugas yang membantu pengaturan lalu lintas pada saat-saat tertentu,” sambung Rudy.
Penempatan petugas diprioritaskan saat pemberlakuan pembatasan jam operasional kendaraan berat, terutama pada pagi dan sore hari.
Pada jam tersebut, kendaraan besar yang diperbolehkan melintas bersama sepeda motor dan minibus hanya kendaraan pengangkut BBG dan BBM.
Selain itu, Sudin Perhubungan Jakarta Utara juga berkoordinasi dengan Unit Pengelola Sistem Pengendalian Lalu Lintas (UP SPLL) untuk pengaturan arus kendaraan menggunakan APILL.
“Selain itu, kami secara internal telah berkoordinasi dengan UP SPLL (Unit Pengelola Sistem Pengendalian Lalu Lintas) dalam hal pengaturan lalu lintas menggunakan APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas),” ucap dia.
Upaya lain dilakukan melalui sinergi dengan kepolisian dalam pengaturan lalu lintas di lokasi tersebut.
Meski berbagai langkah telah dilakukan, Rudy mengakui pengaturan lalu lintas di jalur tengkorak Cilincing menghadapi banyak kendala.
“Kesulitan yang sering ditemui di lapangan adalah perilaku mengemudi masyarakat yang kurang berkeselamatan,” tutur Rudy.
Pengendara yang mengabaikan keselamatan diri dan orang lain membuat potensi kecelakaan tetap tinggi. Selain itu, cuaca ekstrem dan tidak menentu juga menyulitkan petugas untuk berjaga sepanjang hari.
Rudy menegaskan, kondisi tersebut membuat pihaknya harus mempertimbangkan kesehatan petugas yang terpapar langsung polusi dan cuaca ekstrem di lapangan.
Analis Kebijakan Transportasi Azas Tigor Nainggolan menilai, kekacauan lalu lintas di Cilincing dipicu oleh kendaraan berat dari Pelabuhan Tanjung Priok yang enggan memanfaatkan jalur tol.
Padahal, sudah tersedia enam ruas jalan tol dari berbagai wilayah Jakarta yang dirancang khusus sebagai akses keluar-masuk pelabuhan.
“Karena di sana sudah ada jalur khusus berupa enam ruas jalan tol dari kota Jakarta, memang jalan tol tersebut dibangun sebagai sarana transportasi lalu lintas angkutan atau kendaraan yang lalu lalang menuju atau dari pelabuhan,” tutur Azas saat dihubungi
Kompas.co
m, Senin.
Menurut Azas, jika kendaraan berat memanfaatkan jalur tol secara optimal, kepadatan lalu lintas di kawasan sekitar pelabuhan, termasuk Cilincing, dapat berkurang dan risiko kecelakaan di jalan umum bisa ditekan.
Ia pun mendorong pemerintah untuk menegakkan aturan secara tegas agar sopir truk benar-benar menggunakan jalur tol khusus pelabuhan.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.