Sejak Selokan Disulap Jadi Kolam Ikan, Warga Koja Tekan Pembuangan Sampah Sembarangan
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Selokan atau saluran air di Jakarta kerap dipersepsikan sebagai tempat yang menjijikkan karena identik dengan air keruh, tumpukan sampah, serta bau menyengat akibat pembuangan limbah sembarangan.
Namun, pemandangan berbeda justru terlihat di Lorong 103 Timur, RT 09 RW 02, Koja, Jakarta Utara.
Di kawasan ini, selokan yang umumnya dianggap kumuh justru tampak jernih dan dimanfaatkan warga sebagai kolam budidaya ikan.
Inisiatif tersebut tidak terjadi secara alami, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan kerja kolektif serta biaya yang tidak sedikit.
Awalnya, selokan sepanjang sekitar 100 sentimeter dengan lebar 80 sentimeter itu diperuntukkan sebagai saluran pembuangan air dari gedung Ramayana yang berada tepat di sebelahnya.
Kondisi air kala itu tidak jauh berbeda dengan selokan lain di Jakarta, keruh dan tercemar limbah, termasuk limbah restoran di dalam gedung tersebut.
Seiring waktu, Ramayana tutup dan gedungnya tidak lagi beroperasi hingga saat ini. Penutupan itu membuat selokan di sampingnya tak lagi tercemar limbah. Namun, kondisi tersebut belum serta-merta memperbaiki keadaan.
Saluran air tersebut masih kerap tersumbat sampah dan meluap ke jalan setiap kali hujan turun. Seorang warga yang tinggal tepat di seberang selokan pun mengeluhkan rumahnya sering kebanjiran meski hujan hanya berlangsung singkat.
Kondisi itu mendorong pengurus RT bersama warga, dengan bantuan Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Utara, melakukan pembongkaran dan penataan saluran air.
“Awalnya itu dari 2019 atau sebelum Covid-19. Sebenarnya berawal dari pembongkaran saluran air, kami bongkar, kami rapihin, kami keruk sekalian,” kata salah satu penggagas selokan menjadi kolam ikan di RT 09, Ismet (38), saat diwawancarai
Kompas.com
di lokasi, Kamis (15/1/2026).
Setelah kondisi selokan membaik dan air menjadi jernih, pengurus RT memanfaatkan saluran tersebut untuk menggelar lomba memancing pada peringatan 17 Agustus. Sekitar lima kilogram ikan lele ditebar ke dalam selokan.
Usai lomba, pengurus RT berinisiatif menjadikan selokan tersebut sebagai kolam ikan permanen. Ikan lele kemudian diganti dengan berbagai jenis ikan lain, seperti mujair, nila, patin, dan gurame.
Kini, ikan-ikan tersebut berkembang biak dengan baik. Sebagian di antaranya bahkan sudah berukuran besar dan dimanfaatkan warga untuk konsumsi.
Selain memperbaiki kondisi lingkungan, keberadaan ikan di selokan juga berdampak pada perubahan perilaku warga, terutama dalam hal membuang sampah.
“Warganya inisiatif punya rasa buat rawat, jadi enggak sembarangan buang sampah, bahan edukasi untuk anak juga kayak oh banyak ikannya kan enggak mungkin buang sampah, jadi limbah dan sampah bisa lebih dikontrol,” jelas Ismet.
Ia menilai, konsep serupa bisa diterapkan di selokan lain di Jakarta agar tidak lagi dijadikan tempat pembuangan sampah. Bahkan, menurut Ismet, sungai dan kali di Jakarta pun berpotensi dimanfaatkan untuk budidaya ikan.
“Jakarta kalau seluruhnya dibikin kayak gini mungkin risiko banjir akan kurang, bisa kali-kali dimaanfaatin sama peternak ikan, tapi dimodalin pemerintah,” ucap dia.
Hasilnya, selokan di depan rumah Ismet kini tidak pernah lagi meluap ke jalan. Aliran air tetap lancar meski terdapat ikan di dalamnya, karena saluran tidak lagi tersumbat sampah.
Selain berfungsi ekologis, selokan yang disulap menjadi kolam ikan juga menjadi hiburan gratis bagi warga sekitar.
“Ini sangat bagus, karena menjadi hiburan gratis untuk warga,” ucap salah satu warga RW 09, Iyus (72).
Iyus mengatakan, hampir setiap sore banyak warga dari luar RT 09 datang bersama anak-anak mereka untuk melihat ikan. Tak jarang, mereka membawa pakan ikan yang dibeli dari pasar dan menebarkannya ke selokan.
Saat pakan disebar, puluhan ikan langsung muncul ke permukaan, menciptakan pemandangan yang mengundang kegembiraan warga dan anak-anak.
“Kalau sore warga dari mana aja, bawa anaknya kasih makan, suka bawa makanan juga,” kata dia.
Iyus berharap kolam ikan tersebut dapat terus dirawat dan dikembangkan ke depannya.
Ketua RT 09 RW 02 Lorong 103, Muhammad Arif Budiman (55), menegaskan
budidaya ikan di selokan
tidak ditujukan sebagai ladang bisnis, melainkan untuk hiburan warga sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
Namun, hampir tujuh tahun berjalan, budidaya ikan di fasilitas umum ini tidak lepas dari berbagai kendala. Karena tidak bisa dipantau selama 24 jam, ikan kerap diambil orang tanpa izin.
“Tapi ada juga orang untuk konsumsi perut, kayak diam-diam duduk, mancing, dapat, terus kabur, banyak ikan yang hilang,” tutur Muhammad.
Selain dicuri, ikan juga sering menjadi sasaran kejahilan anak-anak dari luar wilayah. Beberapa ikan gurame berbobot hingga tiga kilogram serta ikan patin sepanjang 70 sentimeter dilaporkan mati karena ditombak.
Untuk mencegah kejadian serupa, pengurus RT memasang sejumlah banner peringatan di sepanjang selokan yang bertuliskan larangan mengganggu dan mengambil ikan karena merupakan peliharaan warga.
Selain faktor manusia, ancaman lain datang dari binatang pemangsa.
“Ada beberapa penyebab yang bikin ikan hilang, manusia, ular, biawak, sama ikan lele itu yang banyak menghabiskan ikan kecil-kecil,” tutur dia.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyambut baik inisiatif warga yang mengubah selokan menjadi kolam ikan. Namun, ia mengingatkan pentingnya memastikan kualitas air agar budidaya ikan tetap aman.
“Perlu cek kualitas air. Misalnya, kandungan logam berat apakah masih di ambang batas yang aman, amoniak maupun bakteri seperti salmonella atau e-coli masih aman enggak,” ungkap dia saat dihubungi
Kompas.com
, Kamis.
Menurut Hasudungan, selama kualitas air memenuhi standar dan tidak menghambat fungsi saluran, pemanfaatan selokan sebagai kolam ikan dapat dilakukan.
Ke depan, Sudin KPKP Jakarta Utara akan mengecek kualitas air dan memberikan pembinaan.
“Selanjutnya dari Sudin KPKP Jakarta Utara akan melakukan pembinaan dengan cara mengikutsertakan pada pelatihan budidaya perikanan,” tutur Hasudungan.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, menilai pemanfaatan selokan sebagai kolam ikan merupakan langkah positif bagi lingkungan.
Namun, ia menekankan sejumlah aspek yang perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan dampak buruk. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah air yang ada di dalam selokan itu.
“Pasti dari sisi airnya harus mengalir, artinya tersirkulasi walaupun kita juga harus lihat jenis ikannya, kemudian aman dan tidak tercemar, tidak berarus deras dan rawan banjir,” ungkap Bayu saat dihubungi
Kompas.com
, Kamis.
Ia juga mengingatkan, selokan yang masih berfungsi sebagai saluran utama air hujan atau irigasi kurang tepat dijadikan kolam ikan.
Apabila digunakan sebagai pembuangan air hujan yang harus mengalir atau untuk mengairi lahan pertanian, maka itu kurang tepat dijadikan tempat budidaya ikan.
Sebaliknya, selokan yang sudah tidak berfungsi optimal justru dapat dimanfaatkan agar tetap bersih dan terawat.
Bayu mendorong pemerintah untuk berperan aktif mendukung inisiatif serupa karena dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan dan menjaga lingkungan.
“Mungkin pemerintah bisa mendorong selokan-selokan yang tidak berfungsi dengan baik dan bukan untuk mengalirkan air atau pembuangan air saat hujan, jadi bisa dihidupkan kembali,” tutur dia.
Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan bantuan benih ikan yang sesuai dengan kondisi selokan. Menurut Bayu, ikan yang cocok dipelihara adalah jenis yang tahan terhadap oksigen rendah dan fluktuasi kualitas air.
Lele menjadi jenis ikan yang paling direkomendasikan. Selain itu, patin, nila hitam, dan gabus juga bisa dipilih jika kualitas air memadai. Sebaliknya, ikan seperti gurame dan koi sebaiknya dihindari karena tidak cocok dengan kondisi selokan.
Tak kalah penting, pemerintah juga diminta membuka akses pasar dan melakukan pendampingan agar hasil budidaya warga dapat terserap secara optimal.
“Akses pasar akan menjadi hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk mendukung warga yang berbudidaya ikan di selokan, yang tentunya akan meningkatkan perekonomian warga,” ungkap dia.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Sejak Selokan Disulap Jadi Kolam Ikan, Warga Koja Tekan Pembuangan Sampah Sembarangan Megapolitan 19 Januari 2026
/data/photo/2026/01/19/696d8daf88128.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)