Liputan6.com, Jakarta – Viral aksi perundungan dan pemerasan terjadi di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sriwijaya Palembang (Unsri) oleh seniornya. Korban bahkan sampai mundur dan melakukan percobaan bunuh diri.
Kasus itu terungkap dari unggahan akun Instagram @medicstory.id. Akun itu dengan lantang menceritakan informasi dari seorang residen junior yang tak tahan dengan perlakuan dari seniornya.
Perundungan dialami korban berupa pemaksaan untuk membiayai hidup mewah pribadi seniornya, mulai dari uang semesteran, clubbing dan party, alat olahraga, sewa padel, sepeda dan club sepeda bola senior, membeli skincare, hingga harus menanggung makan dan minum senior.
Tidak hanya itu, peserta PPDS juga harus membelikan tiket pesawat dan tiket konser untuk senior, biaya sewa rumah dan indekos, biaya penelitian ilmiah dan seminar senior, antar jemput anak senior, membelikan alat kesehatan, dan harus memenuhi kebutuhan mewah lainnya.
“Dilakukan secara rapi, sembunyi-sembunyi, dan disertai dengan intimidasi dan ancaman, jika tidak menuruti maka junior akan dirundung, dikucilkan dan dipersulit selama masa pendidikannya oleh para oknum senior PPDS Unsri,” tulis @medicstory.id seperti dilihat merdeka.com, Rabu (14/1).
Namun, pihak kampus dan tenaga pendidik atau dokter terkesan menutupi bahkan melakukan pembiaran terhadap fenomena itu. Tak tahan dengan perlakuan itu, junior PPDS sampai mengundurkan diri dan melakukan percobaan bunuh diri.
Dalam tulisan itu, pengirim pesan memiliki bukti kuat pemerasan dan perundungan. Hal ini menandakan informasi tersebut bukan fitnah melainkan benar adanya.
“Berupa rekening koran korban pemerasan, rekaman telepon dan chat pemerasan oleh senior,” tulisnya.
Para korban berharap kasus ini menjadi perhatian karena sangat meresahkan dan mengancam nyawa calon dokter spesialis. Dalam pesan itu disebut PPDS Unsri memiliki database mahasiswa yang mengundurkan diri akibat kasus tersebut.
“Setelah pesan ini tersebar, para junior akan dituduh dan diintimidasi, tapi kami tidak akan tinggal diam,” tulisnya.
Kepala Humas Unsri Nurly Meilinda menyebut pihaknya telah mengambil langkah-langkah berupa membentuk Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT). Satgas ini membantu dan berkoordinasi dalam proses investigasi.
“Kami juga telah melakukan tahap klarifikasi dengan meminta keterangan dari berbagai pihak, termasuk senior dan sejawat yang berada dalam lingkup akademik yang sama,” kata dia.
Reporter: Merdeka.com/Elfayramy Semangat
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4864425/original/091033700_1718429689-Screen_Shot_2024-06-15_at_12.14.54.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)