Derita Warga Pelosok Ende, Ibu Hamil hingga Pelajar Harus Terobos Banjir Kali Lowolaka Regional 14 Januari 2026

Derita Warga Pelosok Ende, Ibu Hamil hingga Pelajar Harus Terobos Banjir Kali Lowolaka
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        14 Januari 2026

Derita Warga Pelosok Ende, Ibu Hamil hingga Pelajar Harus Terobos Banjir Kali Lowolaka
Tim Redaksi
ENDE, KOMPAS.com
– Ketiadaan jembatan masih menjadi persoalan utama yang dihadapi warga Desa Fataatu Timur dan sejumlah desa lain di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.
Hampir setiap musim hujan, ratusan warga mulai dari pelajar, orang dewasa, lanjut usia hingga ibu hamil, terpaksa menerobos derasnya banjir di kali Lowolaka.
Demi sampai ke sekolah, para siswa melepas sepatu agar tidak basah saat menyeberangi sungai.
Tak jarang, anak-anak harus dibantu orangtua atau warga setempat untuk melintasi derasnya arus Kali Lowolaka.
Bahkan, mereka terkadang terpaksa meliburkan diri dan tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Kondisi ini merupakan masalah berulang setiap tahun. Saat musim hujan, akses transportasi lumpuh total. Mobilitas orang dan barang terhambat, dan yang paling terdampak adalah anak-anak sekolah,” ujar Kepala Desa Fataatu Timur, Isak Abel Do, Rabu (14/1/2026).
Isak mengungkapkan, ketika banjir besar, sekitar satu minggu air di sungai itu baru benar-benar surut.
Situasi ini semakin menyulitkan siswa, terutama ketika bertepatan dengan masa ujian sekolah.
“Kalau banjir terjadi saat ujian, itu sangat sulit. Anak-anak tetap berusaha datang ke sekolah dengan dibantu orangtua mereka menyeberangi kali. Tapi kalau banjir besar, ujian terpaksa ditunda,” ungkapnya.
Tak hanya sektor pendidikan yang terdampak, akses layanan kesehatan menjadi persoalan.
Isak menceritakan pengalamannya pada 2016 saat membawa seorang ibu hamil yang hendak melahirkan ke Puskesmas Weloamosa, yang berjarak lebih dari 10 kilometer dari Desa Fataatu Timur.
Saat itu, Kali Lowolaka sedang banjir, mobil yang tumpangi tidak mampu menembus arus.
Ia terpaksa menggunakan truk untuk mengangkut ibu hamil tersebut agar bisa menerobos banjir.
“Bahkan ada ibu hamil yang harus digendong menyeberangi kali saat musim hujan. Ada juga warga Desa Aendoko yang sakit dan dirujuk ke puskesmas pada malam hari, terpaksa digotong ke seberang kali sebelum dibawa mobil,” tuturnya.
Menurut Isak, meski terdapat jalur alternatif berupa jalan rabat beton yang dibangun menggunakan dana desa pada 2018, namun jalur tersebut bukanlah solusi efektif saat keadaan genting.
Sebab, jarak tempuhnya mencapai sekitar empat jam perjalanan, sementara melewati Kali Lowolaka hanya memakan waktu sekitar 10 menit.
Ia mengungkapkan, pemerintah desa telah berupaya menyuarakan persoalan ini melalui Musrenbang tingkat kecamatan dan kabupaten.
Namun hingga kini, pembangunan jembatan penghubung belum juga terealisasi.
“Kami sangat berharap pemerintah pusat, pemprov
NTT
, dan pemkab dapat merespons serius persoalan ini. Kali Lowolaka adalah satu-satunya akses transportasi masyarakat,” tandasnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.