FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Eks Sekretaris Badan USaha Milik Negara Muhammad Said Didu mengomentari realisasi pendapatan negara di 2025. Itu dia dasarkan pada data Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang diolah Bright Institute.
Data Bright Institute itu mulanya dibagikan Ekonom Awalil Rizky, yang merupakan bagian dari lembaga tersebut. Data itu berisi realisasi pendapatan dari 2011 sampai 2025.
“Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang/Jasa. Selain PPN, atas konsumsi barang mewah, juga dikenakan PPnBM,” tulis Awalil dikutip dari unggahannya di X, Rabu (14/11/2025).
“Realisasi sementara PPN dan PPnBM 2025 sebesar Rp790,2 T atau 83,61% target APBN yang Rp945,12 T. Shortfall tertinggi 6 tahun ini,” tambahnya.
Itu yang dikomentari Didu. Dia mengatakan, data itu menujukkan penurunan daya beli hingga 20 persen.
“Catatan dari angka ini artinya pembelian atau daya beli selama 2025 diperkirakan turun sekitar 17 – 20 %,” imbuhnya.
Dia mengaku bingung dengan data tersebut.
“Terus apa yang bisa dibanggakan?” pungkasnya.
(Arya/Fajar)
