Jakarta (ANTARA) – Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru Sugiyanto berpendapat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI perlu melakukan evaluasi menyeluruh untuk mengatasi kemacetan di Jakarta yang belum teratasi.
“Masyarakat tidak butuh kabar peringkat turun, tetapi butuh bukti nyata bahwa perjalanan makin cepat dan nyaman,” kata Sugiyanto di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, masyarakat Jakarta setiap hari menghadapi realitas pahit kemacetan yang tidak kunjung mereda, bahkan semakin membebani aktivitas dan produktivitas warga.
Penurunan peringkat kemacetan Jakarta dalam rilis TomTom Traffic Index 2024, kata dia, bukanlah gambaran keberhasilan karena fakta di lapangan justru menunjukkan peningkatan waktu tempuh perjalanan.
“Data TomTom menunjukkan waktu tempuh 10 kilometer kini mencapai 25 menit 31 detik atau naik dibanding 23 menit 20 detik pada 2023. Ini bukti bahwa kemacetan tambah parah, bukan membaik,” ujarnya.
Perubahan metodologi TomTom dari persentase kemacetan menjadi waktu tempuh 10 kilometer sejak 2022 sering disalahpahami sebagai perbaikan situasi. Padahal, jika melihat angka waktu tempuh, tren menunjukkan perburukan mobilitas warga.
Sugiyanto juga menyoroti INRIX 2024 Global Traffic Scorecard yang bahkan menempatkan Jakarta di peringkat ke-7 kota termacet di dunia, naik dari posisi 10 pada tahun sebelumnya. Pengemudi di Jakarta kehilangan rata-rata 89 jam per tahun karena kemacetan.
“Lembaga internasional seperti INRIX mencatat kecepatan rata-rata di pusat Jakarta hanya 20 km/jam. Ini bukti kuat bahwa kebijakan transportasi tidak berjalan efektif,” katanya.
Ia menilai, salah satu akar masalah adalah lambannya implementasi kebijakan strategis seperti Electronic Road Pricing (ERP) yang hingga kini belum diterapkan meskipun telah dibahas bertahun-tahun.
Sugiyanto berharap, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo dan Wakil Gubernur Rano Karno memberikan perhatian serius terhadap data dan fakta kemacetan ini.
“Kemacetan adalah masalah nyata, bukan persepsi. Pemprov harus mengambil langkah strategis, bukan sekadar bangga dengan peringkat. Masyarakat membutuhkan perbaikan mobilitas, bukan statistik yang menyesatkan,” ujarnya menambahkan.
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
