Antisipasi Banjir, Pemkot Jakbar Keruk Sedimentasi di 11 Titik Rawan
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Pemerintah Kota
Jakarta Barat
kembali mengintensifkan
pengerukan lumpur
atau sedimentasi di sejumlah saluran air dan sungai sebagai langkah
antisipasi banjir
.
Upaya ini dilakukan menyusul evaluasi pascabanjir yang merendam sejumlah wilayah di Jakarta Barat.
Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Barat Purwanti Suryandari mengungkapkan tengah melakukan pengerukan secara serentak di 11 lokasi yang dinilai rawan banjir.
“Seperti yang ada di Mookervart, kemudian di Taman Palem, dan lain-lain. Ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi banjir dan genangan dengan menambah kapasitas tampungan air,” ujar Purwanti saat meninjau lokasi pengerukan di
Kali Sepak
, Kembangan, Selasa.
Salah satu lokasi yang menjadi prioritas adalah Kali Sepak, yang selama ini kerap menjadi titik luapan paling parah di kawasan Kembangan.
“Kali Sepak ini dalam upaya untuk menangani genangan bukan hanya di wilayah sini saja, tapi juga bisa ke Taman Alfa Indah, kemudian ke Intercon, ini alirannya dari sana, banyak,” jelas Purwanti.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, menyebutkan pengerukan di Kali Sepak ditargetkan rampung dalam waktu tiga bulan dengan panjang lintasan mencapai 1,4 kilometer.
“Saat iniada tiga alat sedang difungsikan oleh Sudin SDA, tiga ekskavator amfibi. Tiga alat ini mampu melakukan pengerukan saluran atau kali dalam satu hari itu dua kali rit,” kata Iin.
Untuk mempercepat proses pembuangan sedimen, Pemerintah Kota Jakarta Barat mengerahkan total 10 armada truk yang bertugas mengangkut lumpur hasil pengerukan ke kawasan Ancol.
“Sepuluh truk ini akan mengangkut sedimen ini ke Ancol. Jadi sepuluh truk dengan 14 meter kubik per hari, ini 140 meter kubik volume lumpur bisa kita angkut tiap hari ke Ancol,” terang Iin.
Ia menambahkan, pengerukan sedimentasi menjadi salah satu kunci utama penanganan banjir karena Kali Sepak bermuara ke sungai besar yang alirannya melintasi sejumlah wilayah di Jakarta Barat.
“Kali Sepak ini nanti alirannya akan menuju ke Kali Angke. Nah ini akan berakibat juga ke dampak ke beberapa wilayah, untuk itu menjadi kunci di hulu kita akan lakukan ini supaya lebih optimal,” tambahnya.
Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kota Jakarta Barat melakukan evaluasi penanganan banjir yang merendam sejumlah wilayah melalui apel gelar pasukan di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Selasa (13/1/2026) pagi.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, mengakui bahwa penanganan banjir merupakan tantangan berat karena menyangkut berbagai persoalan yang saling berkaitan.
Iin menegaskan, banjir di Jakarta Barat tidak dapat dipandang dari satu faktor semata, melainkan merupakan gabungan dari faktor alam, kondisi geografis, hingga persoalan infrastruktur.
“Banjir seperti saya sampaikan tadi di apel bahwa ini adalah persoalan yang multidimensi ya sesungguhnya. Ini kita bicara air kan bicara hulu sampai ke hilir,” ujar Iin usai memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Selasa.
Menurut Iin, faktor dari wilayah hulu berkaitan dengan kiriman air yang menyebabkan kenaikan muka air. Sementara itu, faktor lokal diperparah oleh kondisi cuaca ekstrem.
Ia juga menyoroti data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mencatat curah hujan di Jakarta Barat mencapai 192 milimeter (mm), yang tergolong dalam kategori ekstrem.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Antisipasi Banjir, Pemkot Jakbar Keruk Sedimentasi di 11 Titik Rawan Megapolitan 13 Januari 2026
/data/photo/2026/01/13/6965d6eb6bb5d.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)