Siswa yang bersekolah di Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan kondisi yang sangat rentan, 60 persen orang tua siswa bekerja sebagai buruh harian lepas, kuli bangunan, buruh tani, buruh nelayan, tukang ojek, tukang cari rumput, pemulung, dan lain sebagainya. Pada umumnya berpenghasilan tidak tetap dan 67 persen berpenghasilan di bawah satu juta rupiah per bulan.
“65 Persen memiliki tanggungan keluarga di atas empat orang, 454 siswa Sekolah Rakyat berasal dari mereka yang tidak atau belum pernah mengenyam bangku pendidikan, 298 siswa Sekolah Rakyat sebelumnya mengalami putus sekolah atau tidak lulus sekolah, dan sebagian dari mereka bahkan sudah bekerja di usia yang sangat muda,” ucap Gus Ipul.
Siswa yang bersekokah di Sekolah Rakyat senantiasa mengikuti pelajaran, cek kesehatan, dan mendapatkan pemenuhan gizi. Sekolah Rakyat tidak memberlakukan tes akademik, namun melakukan tes DNA Talent berbasis teknologi untuk memetakan potensi siswa.
“Pendidikan formal dijalankan dengan kurikulum yang sangat personal, dibimbing guru yang tersertifikasi, di mana kurikulum dan rekrutmen guru dipandu secara langsung oleh Prof. Mu’ti dan jajaran Kementerian Pendidikan Dasar Menengah,” terang Gus Ipul.
Sekolah Rakyat menyediakan lingkungan belajar yang modern namun tetap terjaga, proses pembelajarannya melalui Learning Management System (LMS). Setiap siswa dalam pembelajarannya didukung menggunakan laptop sebagai media belajar mengajar dan hanya untuk kepentingan di dalam kelas, penggunaan HP sangat dibatasi di Sekolah Rakyat.
“Sekolah Rakyat adalah kawah candradimuka, tempat di mana penjaga asa keluarga ditempa, dididik untuk menjadi pemutus mata rantai kemiskinan dan merubah masa depan keluarga,” ungkap Gus Ipul.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470309/original/078216800_1768202395-20260112_133211.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)