Orangtua Melepas Praka Satria Gugur di Papua: "Dia Pergi sebagai Prajurit Sejati…" Regional 11 Januari 2026

Orangtua Melepas Praka Satria Gugur di Papua: "Dia Pergi sebagai Prajurit Sejati…"
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        11 Januari 2026

Orangtua Melepas Praka Satria Gugur di Papua: “Dia Pergi sebagai Prajurit Sejati…”
Tim Redaksi
KUPANG, KOMPAS.com
– Tangis Dorkas Johana pecah saat upacara pemakaman militer Praka Satria Tino Taopan (29) berakhir di Taman Makam Pahlawan Dharma Loka, Kota Kupang, Minggu (11/1/2026) sore.
Di hadapannya, peti berbalut Merah Putih itu perlahan diturunkan ke liang lahat.
Di situlah putra sulungnya, prajurit TNI Angkatan Darat dari Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan, beristirahat untuk selamanya setelah gugur saat menjalankan tugas negara di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Kamis (8/1/2026).
Bagi Dorkas, kehilangan ini adalah luka yang tak pernah ia bayangkan akan datang secepat ini.
Namun di balik kesedihan itu, ada kebanggaan yang ia genggam erat. Kebanggaan seorang ibu yang melepas anaknya gugur demi negara.
“Sebenarnya saya tidak kuat menerima ini sebagai seorang mama,” ujar Dorkas dengan suara bergetar.
“Tapi karena dia punya niat sendiri, dia nekat jadi anggota TNI. Dia selalu bilang, mama harus bangga kalau saya gugur di medan pertempuran demi NKRI.” Kata-kata itu kini terngiang jelas di kepalanya.

Komunikasi terakhir Dorkas dengan Satria terjadi Rabu (7/1/2026) pagi sehari sebelum gugur.
Seperti biasa, pukul 05.00 subuh, ia bangun dan masuk ke ruang doanya. Dari sanalah ia mengirim firman dan salam melalui pesan WhatsApp kepada dua anaknya.
Satria yang bertugas di Papua dan adiknya yang berdinas sebagai polisi di Ruteng, Kabupaten Manggarai.
“Saya tunggu balasan,” tutur Dorkas.
“Kadang Satria yang balas duluan, kadang adiknya. Dia punya kebiasaan bilang, ‘salom mama sayang’.”
Pesan itu menjadi salam terakhir yang ia terima dari sang anak.
Satria sempat mengeluh tentang beratnya tugas. Namun sebagai ibu, Dorkas memilih menguatkan, bukan melarang.
“Saya bilang, hari itu kakak yang putuskan jadi TNI. Jangan mengeluh ke mama atau bapa. Kalau sudah pilih jalan ini, harus kuat. Dia jawab, ‘siap mama’,” kenangnya.
Ironisnya, Minggu (11/1/2026) seharusnya menjadi hari bahagia. Satria dijadwalkan pulang ke Kupang setelah tugasnya di Papua selesai. Kepulangan yang dinanti keluarga itu berubah menjadi kepulangan terakhir, dalam peti jenazah.
“Sejak pertama bertugas tahun 2022, dia tidak pernah benar-benar pulang ke Kupang,” kata Dominikus.
Setelah pendidikan, Satria ditempatkan di Medan, lalu langsung tergabung dalam satuan tugas di Merauke, Papua.
Dari Papua, Satria kembali menantang dirinya. Ia mengikuti seleksi pasukan penjaga perdamaian PBB.
Dari sekitar 4.000 personel yang mengikuti tes, hanya 900 yang terpilih ke Kongo. Nama Satria termasuk di antaranya.
“Kami bersyukur dan bangga. Dia jadi pasukan PBB,” ujar Dominikus.
Tetapi tugas belum selesai. Ketika Satria kembali ditugaskan ke Papua untuk kedua kalinya, penolakan datang dari rumah, terutama dari sang ibu.
“Saya sudah pasti menolak,” kata Dorkas. “Sebagai mama, saya lihat kondisi di sana. Banyak kejadian, banyak korban.”
Namun Satria tetap pada pendiriannya.
“Dia bilang, ‘Mama, saya sudah jadi anak negara. Saya harus tanggung jawab tugas saya. Kalau Tuhan berkenan saya gugur, saya bangga. Semua orang juga bangga kalau saya di atas tempat tidur jenazah loreng’,” tutur Dorkas lirih.
Dominikus mengaku rasa takut sempat menyelimuti keluarga saat mengetahui Satria kembali ditugaskan ke Papua.
“Ternyata yang kami takuti itu betul-betul terjadi,” ucapnya pelan.
Meski duka mendalam, kebanggaan tak pernah lepas dari hati kedua orangtua itu.
Upacara
pemakaman militer
yang khidmat menjadi penegasan terakhir bahwa Satria adalah prajurit negara.
Usai upacara, Komandan Kodim (Dandim) 1604/Kupang, Kolonel Inf Kadek Abriawan, menyerahkan bendera Merah Putih kepada Dorkas dan Dominikus. Bendera yang sebelumnya menutupi peti jenazah putra mereka.
“Kami akan simpan baik-baik,” kata Dominikus. “Ini kenang-kenangan dan sejarah paling terbaik untuk keluarga kami.”
Dorkas menambahkan, “Kami bangga. Merah putih ada di atas pundaknya. Dia pergi sebagai prajurit sejati.”
Di bawah langit Kupang yang sore itu mendung, Praka Satria Tino Taopan kini beristirahat.
Namun bagi keluarganya, satu pesan akan selalu hidup, salom mama sayang, salam terakhir dari seorang anak, seorang prajurit, untuk Indonesia.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.