Memasuki tahap kedua, pembelajaran tidak hanya berfokus pada konsep sains murni, tetapi juga dikaitkan dengan isu global yang relevan.
“Tahap kedua, murid diajak mengenal berbagai perubahan iklim global, salah satunya adalah pemanasan global (global warming). Materi ini diambil dari gim edukasi pada Ruang Murid di Rumah Pendidikan,” sambungnya.
Melalui pendekatan tersebut, siswa diajak memahami sains secara kontekstual. Yuli berharap metode ini mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini.
“Harapannya, mereka akan lebih peduli terhadap kelestarian alam demi kehidupan yang lebih baik di masa depan,” ungkapnya.
Tahap ketiga menjadi momen yang paling personal, yakni refleksi diri. Menggunakan Papan Interaktif Digital, para siswa tampak sangat antusias bergantian mengekspresikan kreativitas mereka pada perangkat tersebut.
“Tahap ketiga adalah refleksi. Semua murid merefleksikan diri dengan tema ‘Aku Ingin Menjadi…’ langsung di Papan Interaktif Digital,” paparnya.
Menurut Yuli, refleksi tersebut menjadi pemantik semangat agar siswa lebih serius menata masa depan.
“Refleksi ini mendorong murid untuk mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh demi mewujudkan cita-cita mereka. Tetap semangat anak-anakku, never stop learning, friends,” pungkasnya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5386099/original/078137900_1760954214-4.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)