Temuan tersebut diungkap oleh Malwarebytes yang dikutip dari Engadget, Minggu (11/1/2026), perusahaan keamanan siber yang mendeteksi adanya kebocoran data sensitif milik pengguna Instagram beredar di dark web.
Informasi yang terungkap tidak hanya mencakup nama akun, tetapi juga alamat tempat tinggal, nomor telepon, alamat email, hingga detail pribadi lainnya.
Malwarebytes menyatakan, data tersebut diperjualbelikan secara ilegal dan berpotensi dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan digital.
“Data yang tersebar ini berisiko disalahgunakan untuk berbagai modus penipuan,” ungkap Malwarebytes dalam laporan resminya kepada pengguna.
Kebocoran ini ditemukan saat perusahaan melakukan pemantauan rutin darkweb. Malwarebytes menduga, sumber masalah berkaitan dengan celah keamanan pada Application Programming Interface (API) Instagram yang sempat teridentifikasi pada 2024.
Sejumlah pengguna mulai merasakan dampaknya. Banyak di antaranya menerima email berulang dari Instagram terkait permintaan reset password, meski tidak merasa melakukan aktivitas tersebut.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4205407/original/050665500_1666852451-pile-3d-instagram-logos.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)