DPRD DKI Wanti-wanti Macet dan Genangan Saat Pembongkaran Tiang Monorel Megapolitan 9 Januari 2026

DPRD DKI Wanti-wanti Macet dan Genangan Saat Pembongkaran Tiang Monorel
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        9 Januari 2026

DPRD DKI Wanti-wanti Macet dan Genangan Saat Pembongkaran Tiang Monorel
Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com
– DPRD DKI Jakarta mengingatkan potensi kemacetan dan genangan air saat rencana pembongkaran tiang-tiang monorel mangkrak yang dijadwalkan pada pekan kedua bulan Januari 2026.
Selain itu, faktor cuaca yang tidak menentu di Jakarta beberapa waktu terakhir ini juga dinilai bisa memperparah dampak proyek tersebut terhadap aktivitas warga.
“Ini sangat diperlukan, karena meyangkut kemacetan di Jakarta akibat
pembongkaran tiang monorel
. Belum lagi karena adanya faktor cuaca yang tidak menentu, jangan sampai menimbulkan kemacetan dan juga genagan air yang menggangu aktivitas masyarakat,” ujar Ketua Komisi D
DPRD DKI
Jakarta, Yuke Yurike kepada
Kompas.com
, Kamis (8/1/2026).
Pembongkaran tiang monorel yang sudah mangkrak puluhan tahun memang diharapkan dapat memperbaiki wajah Jakarta.
Namun, proses pengerjaannya harus benar-benar diantisipasi agar tidak menimbulkan masalah baru di lapangan.
Menurut Yuke, Komisi D DPRD DKI yang meliputi bidang pembangunan berharap pembenahan jalan-jalan protokol pada 2026 dapat membuat Jakarta lebih rapi, indah, dan tidak menambah kemacetan.
“Kami pastinya berharap pembenahan jalan-jalan protokol pada tahun 2026 ini menjadikan Jakarta lebih rapih, indah dan tidak terjadi macet,” kata Yuke.
Yuke menilai kerapihan dan keindahan kota kini menjadi tuntutan seiring perubahan status Jakarta menuju kota global.
Karena itu, penataan kota pada 2026 perlu dilakukan secara masif agar memberi kenyamanan bagi masyarakat pengguna jalan.
Ia mencontohkan kondisi sejumlah ruas jalan yang masih dalam proses pengerjaan dan belum tertata merata.
“Saat ini sejumlah ruas jalan masih dalam proses pengerjaan. Di Jalan Kuningan, Jakarta Selatan, kondisi sisi kanan dan kiri belum sama. Ada yang sudah dirapikan, ada yang belum. Ini yang terus kami pantau, mulai dari kemacetan, kerusakan jalan, hingga dampaknya bagi pengguna jalan, agar aktivitas masyarakat tidak terganggu,” ujar Yuke.
Karena itu, proses penataan Jalan Rasuna Said, termasuk pembongkaran tiang monorel, diharapkan dapat berjalan lancar.
Dinas terkait didorong menyiapkan langkah penanggulangan, mulai dari rekayasa lalu lintas hingga koordinasi yang baik agar pekerjaan tidak menimbulkan kemacetan berkepanjangan.
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga diminta melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar pengguna jalan dapat mengantisipasi dampak kemacetan selama proses pengerjaan berlangsung.
Meski demikian, hingga kini Komisi D DPRD DKI masih menunggu rapat kerja dan penjelasan teknis dari Dinas Bina Marga terkait antisipasi kemacetan serta dampak lain akibat pembongkaran tiang monorel.
“Transportasi publik di Jakarta sudah terintegrasi, seperti LRT dan Transjakarta. Tantangannya tinggal bagaimana membuat pejalan kaki nyaman menikmati kota, siang maupun malam, lewat perbaikan pedestrian di jalan protokol seperti Jalan Rasuna Said, agar aman bagi pejalan kaki, pengendara, dan pesepeda,” kata Yuke.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono memastikan pembongkaran
tiang monorel mangkrak
akan dimulai pada pekan ketiga Januari 2026. Ia menyebut pembongkaran kemungkinan dilakukan pada Selasa atau Rabu.
“Untuk pembongkaran monorel seperti yang kemarin kami sampaikan, akan kami lakukan minggu ketiga, apakah hari Selasa atau Rabu depan,” ucap Pramono saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2025).
Pramono menjelaskan, pembongkaran akan dilakukan langsung oleh Pemprov DKI melalui Dinas Bina Marga, setelah PT Adhi Karya tidak merealisasikan pembongkaran sesuai batas waktu yang diberikan.
“Adhi Karya sudah kami surati dan batas waktunya sudah lewat, kami akan melakukan sendiri,” katanya.
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo menyebut jadwal pembongkaran bahkan dimajukan atas arahan gubernur.
“Minggu ketiga mau dibongkar. Tapi Pak Gubernur kemarin, pada saat rapat pimpinan (rapim), menyampaikan minta minggu depan dibongkar. Jadi rencana minggu depan kita akan mulai. Insyaallah hari Rabu, kalau tidak berubah,” ujar Heru, Rabu (7/1/2026).
Sebanyak 98 tiang monorel di sepanjang koridor HR Rasuna Said akan dibongkar. Setelah itu, Pemprov DKI akan menata ulang badan jalan dan trotoar agar sisi timur Rasuna Said seragam dengan sisi barat yang sudah lebih dulu ditata.
“Rasuna Said sisi barat sudah selesai, jalan dan trotoarnya sudah rapi. Tapi sisi timurnya masih terkendala adanya tiang monorel. Makanya akan kita rapikan jalannya,” kata Heru.
Pembongkaran dan penataan jalan tersebut menggunakan APBD DKI Jakarta dengan total anggaran sekitar Rp 100 miliar.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo memastikan pembongkaran tidak disertai penutupan jalan. Rekayasa lalu lintas akan dilakukan dengan menempatkan alat berat di jalur lambat, sementara kendaraan dialihkan ke jalur cepat.
“Tidak dilakukan penutupan jalan,” kata Syafrin.
Pembongkaran juga akan dilakukan pada malam hari untuk meminimalkan gangguan lalu lintas.
“Otomatis pembongkarannya malam hari. Window times-nya itu,” ujarnya.
Polemik pembongkaran tiang monorel sendiri sudah bergulir sejak era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Namun hingga lebih dari satu dekade berlalu, tiang-tiang tersebut belum juga dibongkar dan terus menjadi simbol proyek transportasi yang mangkrak di Jakarta.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.