8 Warga Puri Asih Sejahtera Kaget Rumah Dieksekusi, Mengaku Beli Tunai sejak 1980-an Megapolitan

8
                    
                        Warga Puri Asih Sejahtera Kaget Rumah Dieksekusi, Mengaku Beli Tunai sejak 1980-an
                        Megapolitan

Warga Puri Asih Sejahtera Kaget Rumah Dieksekusi, Mengaku Beli Tunai sejak 1980-an
Tim Redaksi

BEKASI, KOMPAS.com
– Warga Perumahan
Puri Asih Sejahtera
, Bekasi Selatan, mengaku terkejut setelah menerima surat perintah eksekusi pengosongan rumah dari Pengadilan Negeri (PN) Bekasi, meskipun mereka menyatakan telah membeli dan menempati hunian tersebut sejak puluhan tahun lalu.
Nelda (50), warga RT 07/RW 01 Kelurahan Jaka Setia, mengatakan rumah yang ditempatinya dibeli secara tunai pada 1984. Selama lebih dari tiga dekade, ia mengaku tidak pernah menghadapi persoalan terkait kepemilikan lahan.
“Saya masuk tahun 1984, dan beli dengan harga
cash
. Saya enggak tahu kalau tempat ini dibeli sama PT Puri Indah. Sekarang di sini sudah ada 100 KK (kepala keluarga). Dan tidak ada satu pun yang dikasih tahu, padahal kami tidak bersalah,” ujar Nelda saat ditemui
Kompas.com
di rumahnya, Rabu (7/1/2026).
Nelda menyebut rumah tipe 54 tersebut dibeli dengan harga Rp 9.500.000. Ia menegaskan, selama bertahun-tahun kondisi berjalan normal tanpa sengketa.
“Dulu bagus-bagus saja,” katanya.
Persoalan baru muncul ketika warga berupaya mengurus sertifikat kepemilikan rumah. Menurut Nelda, pihak pengembang hanya memberikan janji tanpa kepastian, seiring kondisi perusahaan yang disebut telah kolaps.
“Saat kami mau bikin sertifikat, hanya janji-janji melulu. Katanya 2 bulan, 3 bulan diulur terus,” ujar Nelda.
Ia mengaku kaget ketika menerima surat pemberitahuan eksekusi pengosongan rumah pada 2024.
“Tiba-tiba Tahun 2024 ini sudah inkrah di
Pengadilan Negeri Bekasi
,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Agus (43), warga lainnya. Ia mengatakan orangtuanya membeli rumah di kawasan tersebut dari PT Puri Asih Sejahtera pada 1983 dan kemudian diwariskan kepadanya.
Namun, pada 1990-an, lahan tersebut disebut dilelang kepada PT Taspen tanpa adanya penjelasan kepada warga yang telah lama menempati kawasan itu.
“Kami itu sudah lama, ya. Ini warisan dari orangtua. Beberapa orang tua kami sebenarnya emang udah ada yang meninggal. Cuman kan tiba-tiba aja prosesnya adalah eksekusi. Dan kami di sini tidak dikasih waktu,” ujar Agus.
Agus menilai warga seharusnya diberi kesempatan untuk menempuh upaya hukum atau mengajukan penundaan eksekusi sebelum pelaksanaan dilakukan.
“Ya seharusnya kan dikasih waktu untuk menahan eksekusi. Cuma yang terjadi langsung eksekusi aja tanpa ada dikasih kesempatan untuk sosialisasi ya, untuk kami mengajukan ke hukum juga, segala macam,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, Pengadilan Negeri Kota Bekasi mengeksekusi 12 unit rumah di Perumahan Puri Asih Sejahtera pada Rabu (7/1/2026). Eksekusi dilakukan berdasarkan dua putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah.
Panitera Muda Perdata PN Bekasi, Dewi Trisetyawati, mengatakan putusan pertama tercantum dalam perkara Nomor 297/Pdt.G/2009/PN.Bks dengan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) Nomor 1101 PK/Pdt/2024 yang diajukan delapan warga dan diputus pada 16 Desember 2024.
Sementara putusan kedua berasal dari perkara Nomor 246/Pdt.G/2008/PN.Bks dengan PK Nomor 1107 PK/Pdt/2024 yang diajukan empat warga dan diputus pada 18 Desember 2024.
“Intinya kami di sini melaksanakan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Kami ada dua penetapan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Bekasi, yaitu terkait nomor 8 pada PDT Eksekusi dan 9 PDT Eksekusi,” kata Dewi di lokasi.
Berdasarkan pantauan
Kompas.com
, proses eksekusi berlangsung ricuh. Sejak pukul 08.00 WIB, ratusan warga berkumpul di depan portal perumahan dan memblokade akses masuk sambil membawa spanduk penolakan.
Teriakan keberatan terdengar bergantian. Sejumlah warga tampak emosional, bahkan menangis sambil memeluk anggota keluarga mereka. Situasi memanas ketika aparat kepolisian mulai memasuki kawasan untuk melakukan pengamanan.
Aksi dorong-dorongan sempat terjadi antara warga dan aparat hingga menyebabkan beberapa orang terjatuh. Seorang perempuan terlihat menangis dan mengaku mengalami pemukulan saat berada di tengah massa.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.