Kasus Leptospirosis di DI Yogyakarta Capai Ratusan pada 2025, Puluhan Meninggal Dunia Yogyakarta 7 Januari 2026

Kasus Leptospirosis di DI Yogyakarta Capai Ratusan pada 2025, Puluhan Meninggal Dunia
                
                    
                        
                            Yogyakarta
                        
                        7 Januari 2026

Kasus Leptospirosis di DI Yogyakarta Capai Ratusan pada 2025, Puluhan Meninggal Dunia
Tim Redaksi
YOGYAKARTA, KOMPAS.com
– Penyakit Leptospirosis masih menjadi ancaman kesehatan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Dinas Kesehatan DIY
mencatat ratusan kasus terjadi dari Januari hingga November 2025.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Ari Kurniawati, menyatakan total
kasus Leptospirosis
dari Januari hingga November 2025 mencapai 453.
Kabupaten Bantul mencatat kasus terbanyak dengan 227 kasus, disusul Kabupaten Sleman (118 kasus), Kabupaten Kulon Progo (49 kasus), Kota Yogyakarta (32 kasus), dan Kabupaten Gunungkidul (27 kasus).
“Di empat kabupaten atau kota dominannya di persawahan, karena air kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira itu dia melewati aliran air, salah satunya sampai persawahan,” ujar Ari, Rabu (7/1/2026).
Dari ratusan kasus tersebut, 38 di antaranya meninggal dunia.
Rincian kasus meninggal dunia adalah Kabupaten Bantul (12 kasus), Kabupaten Sleman (11 kasus), Kota Yogyakarta (8 kasus), Kulon Progo (6 kasus), dan Gunungkidul (1 kasus).
Ari menambahkan bahwa Leptospirosis termasuk penyakit yang harus terus diwaspadai.
Pada 2025, Surat Edaran Gubernur DIY telah diterbitkan untuk meminta seluruh sektor, tidak hanya kesehatan, agar waspada terhadap Leptospirosis.
“Karena leptospirosis itu kan penyakit demam, sementara demam itu diagnosisnya bisa macam-macam, bisa demam berdarah, bisa leptospirosis, bisa penyakit lain,” jelasnya.
Tinggi kasus di Kabupaten Bantul disebabkan oleh banyaknya area persawahan yang meningkatkan risiko penularan.
“Petani berisiko terinfeksi leptospirosis. Kasusnya itu masih terus ada,” kata Ari.
Menurut Ari, pola penularan di Kota Yogyakarta berbeda, di mana penularan banyak terjadi karena timbunan sampah dan perubahan iklim.
“Jadi terkait sanitasi lingkungan, persampahan, untuk perubahan iklim, banjir walaupun kecil, sisa-sisa genangan, itu bisa berpengaruh,” katanya.
Pemerintah Kota Yogyakarta berupaya mencegah penyebaran Leptospirosis melalui program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan perbaikan RTLH sebagai langkah penting untuk menjamin kesehatan masyarakat.
“Tempat tinggal dan lingkungan yang bersih akan memberikan rasa nyaman dan aman untuk tinggal, serta mengurangi risiko penyebaran penyakit,” ungkap Hasto pada Senin (4/8/2025).
Perbaikan RTLH juga bertujuan mengurangi risiko penularan penyakit Tuberkulosis (TBC).
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.