9 Warga Cigobang Merasa Tertipu, Dibilang Tanam Salak, Ternyata Sawit Bandung

9
                    
                        Warga Cigobang Merasa Tertipu, Dibilang Tanam Salak, Ternyata Sawit
                        Bandung

Warga Cigobang Merasa Tertipu, Dibilang Tanam Salak, Ternyata Sawit
Tim Redaksi
CIREBON, KOMPAS.com
– Penolakan terhadap penanaman kelapa sawit di kawasan Bukit Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat tidak hanya datang dari pemerintah.
Sejumlah warga yang tinggal paling dekat dengan lokasi penanaman, menolak serta menyuarakan kekhawatiran serius dampak lingkungan pasca ditanami sawit terhadap masa depan anak cucu mereka.
Sejumlah warga yang mayoritas terdiri dari ibu rumah tangga dari Dusun Karanganyar, Desa Cigobang mendaki bukit bersama kaum perempuan lainnya.
Mereka tak sekadar naik, melainkan juga keliling ke beberapa titik tanaman sawit yang sudah berdiri tegak di lokasi.
Setelah berkeliling, mereka tak langsung pulang, melainkan berusaha menunggu kedatangan Bupati
Cirebon
dan pejabat lainnya.
Mereka menunggu sambil menceritakan keluh kesah dan kekhawatirannya.
Kepada
Kompas.com
, Rohana (63), salah satu ibu rumah tangga mengaku kaget dan gelisah setelah menemukan sejumlah tanaman sawit.
Kebun Cigobang, yang dia kenal adalah tempat
ngarit
mencari rumput untuk sejumlah hewan ternak kambing.
Bukan hanya dirinya, tetapi sebagian warga lainnya juga mencari sumber penghidupan di area perbukitan itu.
“Beberapa waktu lalu saya lagi
ngarit
rumput, kok aneh ada pohon sawit. Saya langsung tidak setuju, saya menolak. Masa depan anak cucu saya bagaimana nanti,” kata Rohana dengan suara bergetar, saat ditemui
Kompas.com
di lokasi, pada Senin (5/1/2026) petang.
Ia mengatakan, lahan di perbukitan sangat penting bagi penghidupan warga kecil sepertinya.
Kalau ditanami sawit semua, Rohana dan warga lainnya akan kehilangan rumput yang menjadi sumber pakan hewan ternaknya.
Ketika itu terjadi, dia mengaku akan mengalami kesulitan hidup yang berkali lipat, ancaman kekeringan, banjir, longsor dan lainnya.
“Hidup sudah susah, jangan ditambah susah gara-gara sawit. Saya dan warga lain, susah cari rumput, bisa nangis kalau sudah tidak ada lahan lagi,” kata Rohana.
Juju yang ikut cerita bersama Rohana, justru merasa kesal.
Dia merasa ditipu karena sebelumnya sempat menanyakan langsung kepada pihak yang menanam tanaman tersebut sekitar empat bulan lalu.
Mereka hanya menjawab akan menanam salak.
Namun, setelah ini ramai, ibu bukan tanaman salak, melainkan sawit.
Juju yang merupakan mantan Ketua RT setempat, menunjukkan, berdasarkan penelusurannya, penanaman sawit di
Bukit Cigobang
tersebar di beberapa titik.
Sekitar 2 hektar lahan sudah ditanami, sedangkan sekitar 2 hektar lainnya masih dalam tahap penggalian dan perencanaan.
“Titik lokasi tanaman sawitnya menyebar. Yang paling banyak di bagian bawah. Di sisi kanan kiri jalan setapak ini juga ada,” ucap Juju.
Warga berharap, pemerintah benar-benar menindaklanjuti larangan penanaman sawit di Jawa Barat dan segera mencabut tanaman yang sudah telanjur ditanam.
Deswi, warga yang rumahnya yang juga tak jauh dari area penanaman sawit, mengaku baru mengetahui adanya tanaman tersebut beberapa waktu terakhir.
Ia menilai, warga sekitar semestinya diinformasikan sejak awal sebelum penanaman dilakukan.
Menurut dia, meski saat ini tanaman sawit masih berukuran kecil, dampak lingkungan dikhawatirkan akan muncul ketika tanaman tersebut tumbuh besar.
“Sekarang mungkin belum terasa. Tapi nanti kalau sudah besar, pasti terdampak. Kami tidak mau banyak musibah untuk anak dan cucu kami nanti,” kata Deswi saat ditemui Kompas.com.
Kekhawatiran utama warga adalah persoalan air dan potensi longsor.
Warga menilai, karakter tanaman sawit tidak sesuai dengan kondisi tanah perbukitan Bukit Cigobang.
Dia menilai sawit akan membuat warga kesulitan air.
Akar sawit itu tidak kuat menahan tanah.
Sehingga, kalau mau tanam, harusnya sesuai dengan sifat tanahnya.
Penolakan warga ini memperkuat desakan agar kawasan perbukitan Bukit Cigobang tetap dijaga sesuai fungsi ekologisnya, demi keselamatan lingkungan dan keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Hujan turun di lokasi.
Sebagian ibu rumah tangga memilih turun dari bukit, dan pulang ke rumah masing-masing.
Namun, ada beberapa warga yang terus menunggu bupati, untuk menyampaikan keresahannya.
Mereka berharap, pemerintah tidak hanya sekadar mendengar jawaban seremonial, tapi praktik dan bukti nyata pencabutan sawit, sebagaimana Surat Edaran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.