6 Melihat Tugu Penurunan Tanah Jakarta, Pengingat Turunnya Tanah 4,5 Meter dalam 46 Tahun Megapolitan

6
                    
                        Melihat Tugu Penurunan Tanah Jakarta, Pengingat Turunnya Tanah 4,5 Meter dalam 46 Tahun
                        Megapolitan

Melihat Tugu Penurunan Tanah Jakarta, Pengingat Turunnya Tanah 4,5 Meter dalam 46 Tahun
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com – 
Tugu Penurunan Tanah Jakarta berdiri tegak di Jembatan Kali Besar, kawasan Wisata Kota Tua, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.
Pantauan
Kompas.com
pada Senin (5/1/2025), tugu berbentuk lurus dan ramping itu tampak kontras dengan bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda di sekitarnya yang memiliki gaya arsitektur megah.
Dibandingkan gedung-gedung berukuran besar di area
Kota Tua
,
Tugu Penurunan Tanah Jakarta
terlihat sangat kecil. Meski demikian, sejumlah pengunjung tetap tertarik mendekati tugu yang terbuat dari material kaca dan plastik tersebut.
Beberapa pengunjung terlihat membaca keterangan yang tertera, mengambil foto tugu, atau menjadikannya latar belakang untuk berfoto, baik secara individu maupun bersama-sama.
Terdapat tiga papan berwarna biru yang masing-masing terpasang di bagian puncak, tengah, dan bawah tugu. Papan di bagian puncak bertuliskan “Permukaan tanah di Jakarta Utara tahun 1974”.
Papan di bagian tengah bertuliskan “Permukaan tanah di Jakarta Barat tahun 1974”. Sementara papan paling bawah bertuliskan “Permukaan tanah di Jakarta Timur tahun 1974”.
Di bawah ketiga papan tersebut terdapat bagian dasar tugu yang terbuat dari lempengan logam. Pada bagian inilah tercantum keterangan mengenai fungsi Tugu Penurunan Tanah Jakarta, yakni sebagai peringatan atas besarnya penurunan permukaan tanah (
land

subsidence
) di Jakarta sejak 1974 hingga 2020 atau selama 46 tahun.
Keterangan tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, serta huruf braille.
Tugu ini dibangun oleh sejumlah pihak, antara lain pemerintah provinsi DKI Jakarta, Kementerian Pekerjaan Umum dan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA).
Dalam proyek ini, tim JICA melakukan transfer teknologi upaya penanggulangan penurunan tanah.
Dikutip dari penjelasan yang ada pada lempengan logam, disampaikan bahwa Jakarta merupakan salah satu kota yang mengalami penurunan tanah paling cepat di dunia.
Sejak pengamatan pada 1974 hingga 2020, tanah di Jakarta secara total telah turun hingga 4,5 meter.
“Penyebab utama terjadinya penurunan tanah adalah adanya penyedotan air tanah secara berlebihan, yang membuat lapisan tanah lempung menyusut dan akibatnya lapisan tanah permukaan mengkerut seperti spon yang dikeringkan,” demikian penjelasan yang ada pada tugu.
Adapun penurunan tanah dicatat di tiga titik, yakni Cengkareng (Jakarta Barat), Cakung (Jakarta Timur), dan Muara Baru (Jakarta Utara).
Data penurunan tanah bersumber dari Dinas Perindustrian dan Energi (DPE) Jakarta pada periode 1974–2014, yang kemudian digabungkan dengan data InSAR pada periode 2014–2020.
InSAR atau Interferometric Synthetic Aperture Radar merupakan teknik pemetaan deformasi permukaan bumi dengan presisi hingga milimeter menggunakan citra radar satelit berulang.
Keterangan pada tugu juga dilengkapi bagan perbandingan tinggi badan manusia dewasa laki-laki dan perempuan. Dari bagan tersebut,
penurunan tanah di Jakarta
selama 46 tahun diperkirakan hampir tiga kali tinggi badan manusia dewasa.
Penurunan tanah tidak hanya mengakibatkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga berkontribusi terhadap kejadian banjir besar di Jakarta.
Keterangan pada tugu menyebutkan bahwa tanah yang telah turun tidak dapat naik kembali. Namun, terdapat upaya yang dapat dilakukan untuk memperlambat proses penurunan tanah serta mengatasi dampak yang ditimbulkan.
“Mari mengambil bagian untuk masa depan Jakarta!, Mari kita perhatikan masalah penurunan tanah,” demikian penutup keterangan yang ada pada tugu.
Salah seorang warga yang berjualan di dekat Tugu Penurunan Tanah Jakarta, Oktani (34), mengaku awalnya tidak mengetahui keberadaan tugu tersebut. Ia sudah delapan tahun berjualan minuman di kawasan itu.
“Baru setahun terakhir ini saya perhatikan. Saya akhirnya baca juga keterangan yang ada di tugu. Karena banyak orang yang nanya ke saya, di mana sih tugu penurunan tanah itu,” katanya saat ditemui 
Kompas.com
, Senin.
“Ini kan tugunya viral. Banyak orang mau lihat. Kalau orang nyari dan belum ketemu, nanyanya ke saya. Padahal sebelumnya saya juga tidak tahu,” tutur Oktani.
Saat membaca keterangan yang ada pada tugu, Oktani mula-mula kurang paham. Ia lalu bertanya kepada suaminya dan pedagang lain.
Setelah diberikan penjelasan, ia mengaku kaget dan takut penurunan tanah Jakarta ternyata sudah dalam.
“Saya baru paham, ternyata tanahnya turun itu setinggi itu. Tinggi lho itu kalau kita lihat dari tugunya saja ya. Sebagai warga ya saya takut, kalau turun terus,” ungkap Oktani.
“Tapi saya orang kecil bisa apa. Mau pindah tempat tinggal kan kami susah, cuma pedagang kecil. Ya kami berharap ada usaha biar penurunan tidak terus-terusan lah,” tambahnya.
Sementara itu, Titis (40), pengunjung yang datang bersama keluarganya ke Wisata Kota Tua, sempat mengambil foto Tugu Penurunan Tanah Jakarta dan membaca keterangan yang tertera.
Titis mengaku masih bertanya-tanya bagaimana penurunan tanah bisa terjadi hingga sebesar yang dijelaskan.
“Saya orang awam ya, jujur membayangkan sulit. Tapi kalau setinggi ini turunnya, ya ngeri juga,” kata Titis.
“Apalagi dijelaskan di tulisannya (pada tugu) karena air tanah yang diambil terlalu banyak. Saya sendiri bukan warga Jakarta, tapi saya ngeri membayangkan,” tutur warga Bogor, Jawa Barat, itu.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.