Terungkap Penyebab Jalan RE Martadinata Jakut Selalu Kena Banjir Rob Megapolitan 6 Januari 2026

Terungkap Penyebab Jalan RE Martadinata Jakut Selalu Kena Banjir Rob
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        6 Januari 2026

Terungkap Penyebab Jalan RE Martadinata Jakut Selalu Kena Banjir Rob
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Jalan RE Martadinata menjadi salah satu titik di Jakarta Utara yang paling rawan terendam banjir rob ketika air laut sedang pasang.
Sebab, persis di sisi kanan Jalana RE Martadinata terdapat aliran Kali Ancol yang volume airnya ikut meningkat ketika laut sedang pasang dan mencapai maksimum.
Setiap kali laut sedang pasang, air dari Kali Ancol dengan mudah meluap ke daratan dan menggenangi
Jalan RE Martadinata
kurang lebih sepanjang 200 meter.
Dalam satu bulan, biasanya Jalan RE Martadinata bisa terendam
banjir rob
sebanyak dua babak.
Dalam satu babak, banjir rob yang menggenang di lokasi ini bisa terjadi sekitar tiga hari hingga satu minggu berturut-turut.
Apabila sudah meluap, ketinggian air yang menggenang di Jalan RE Martadinata bisa mencapai 10 hingga 40 sentimeter tergantung besarnya volume air laut di Kali Ancol.
Air berwarna kecokelatan terkadang hitam karena telah bercampur dengan debu dan air selokan, sudah menjadi pemandangan bissa yang menghiasi Jalan RE Martadinata.
Untuk pengendara yang baru melintas di jalan ini pastinya akan kaget ketika terjadi banjir dan memilih untuk memutar balik.
Sementara pengendara yang setiap hari melintas tak kaget lagi jika Jalan RE Martadinata tergenang rob.
Sebagian besar pengendara tetap memilih untuk menerobos banjir rob, meski tahu kendaraannya berpotensi mengalami kerusakan.
Di sisi lain, sejumlah pengendara mengaku penasaran mengapa banjir rob di jalan vital tersebut tak pernah teratasi hingga saat ini.
“Bingung banget kadang di sini hujan dikit juga rob, padahal kadang di Muara Angke itu yang jadi langganan banjir dan dekat banget ama laut enggak rob, di sini udah banjir sebetis,” ucap salah satu pengendara bernama Intan (29) saat diwawancarai
Kompas.com
di lokasi, Senin (5/1/2026).
Padahal, seharusnya penanganan banjir rob di Jalan RE Martadinata bisa lebih diutamakan oleh pemerintah, karena merupakan akses vital untuk banyak pengendara.
Pengendara lain bernama Riki (25) juga bertanya-tanya mengapa Jalan RE Martadinata selalu menjadi langganan rob dalam beberapa tahun ke belakang.
“Saya juga bingung kenapa beberapa tahun belakangan ini justru semakin sering terendam banjir, apa enggak bisa ditanganin atau gimana?” kata dia.
Riki mengaku, sering melihat petugas SDA dan pompa
mobile
bersiaga di sisi kanan jalan RE Martadinata dekat JIS, serta langsung melakukan penyedotan ketika air laut mulai meluap.
Namun, penyedotan dengan pompa juga seringkali gagal mencegah air rob agar tidak menggenangi Jalan RE Martadinata selama berjam-jam.
Oleh sebab itu, Riki berharap agar ada penanganan yang lebih serius untuk mengatasi persoalan banjir rob di Jalan RE Martadinata.
“Harapannya semoga dimaksimalkan lagi pompa pembuangan airnya supaya banjirnya surut dan bisa kering. Pihak terkait juga bisa melakukan penanganan lebih ekstra,” ungkap dia.
Ketua Subkelompok Perencanaan Bidang Pengendalian Rob dan Pengembangan Pesisir Pantai Dinas Sumber Daya Air DKI
Jakarta
, Alfan Widyastanto, angkat bicara terkait sederet penyebab seringnya Jalan RE Martadinata terendam banjir.
Alfan bilang, memang sudah dua tahun terakhir banjir rob di lokasi tersebut terjadi lebih sering dibandingkan sebelumnya.
“Berdasarkan data, fenomena banjir rob di Jalan RE Martadinata tercatat telah terjadi sejak tahun 2023. Ini berdasarkan aduan di CRM dan inventarisasi yang dilakukan Dinas SDA pada saat itu,” kata Alfan saat dihubungi
Kompas.com,
Senin malam.
Ia juga mengakui, sampai saat ini banjir rob di kawasan tersebut belum teratasi secara optimal sehingga genangan masih sering terjadi ketika air laut sedang pasang dan curah hujan yang tinggi.
Salah satu penyebab mudahnya air laut dari Kali Ancol meluap ke Jalan RE Martadinata karena banyak tanggul yang sudah retak.
Imbasnya, air laut dari Kali Ancol keluar lewat celah-celah tanggul dan perlahan menggenangi Jalan RE Martadinata setiap kali air laut sedang pasang.
Di sisi lain, fungsi drainase atau saluran air di Jalan RE Martadinata sudah tidak lagi berfungsi secara optimal
“Fungsi drainase di kawasan tersebut sudah tidak optimal karena terdapat rembesan air dari celah-celah tanggul,” sambung dia.
Tanggul kali yang bercelah juga disebabkan karena adanya penurunan tanah di Jalan RE Martadinata.
Sementara salah satu penyebab penurunan tanah di Jalan RE Martadinata semakin parah karena tingginya volume kendaraan berat yang melintas di lokasi ini.
Jalan RE Martadinata memang menjadi salah satu akses penting yang hampir setiap detiknya dilalui kendaraan berat seperti truk trailer dan kontainer.
Sebab, jalan vital tersebut dekat sekali dengan Pelabuhan Tanjung Priok sehingga tak heran bila menjadi tempat berlalu lalangnya kontainer.
Pengamatan Kompas.com di lokasi, Jalan RE Martadinata kerap kali bergetar ketika dilintasi oleh kendaraan berat. Getaran akan semakin terasa jika truk menghantam lubang.
Getaran tersebut seolah menjadi pertanda betapa beratnya beban yang dibawa truk sehingga aspal pun ikut bergoyang.
Selain itu, Alfan juga membantah bahwa pembangunan JIS menjadi penyebab utama semakin parahnya banjir rob di Jalan RE Martadinata.
“Pembangunan Stadion JIS bukan merupakan penyebab utama banjir rob di kawasan Jalan RE Martadinata,” ungkap dia.
Penanganan banjir rob di RE Martadinata memang mengalami kendala karena pembangunan dan pemeliharaan tanggul sheet pile di kawasan ini merupakan kewenangan pemerintah pusat yakni Kementerian Pekerjaan Umum.
Oleh sebab itu, Pemprov Jakarta tidak bisa sembarangan melakukan perbaikan tanggul Kali Ancol di Jalan RE Martadinata meski sudah retak dan berlubang.
Namun, Alfan memastikan bahwa perbaikan tanggul di kawasan tersebut sudah masuk dalam rencana Kementerian Pekerjaan Umum.
“Saat ini terkait perbaikan tanggul
sheet pile
di kawasan tersebut sudah masuk dalam rencana pengerjaannya oleh Kementerian Pusat untuk kawasan ancol hilir dengan skema Multiyears 2025-2027,” ucap Alfan.
Sambil menunggu perbaikan tanggul dilakukan, maka Dinas SDA sudah melakukan upaya penanganan darurat dengan menyiagakan pompa mobile dan petugas untuk mengatasi dan mengantisipasi potensi banjir rob di lokasi ini.
Jadi, ketika banjir rob mulai meluap ke jalan, air langsung disedot dengan pompa agar ketinggiannya tidak semakin bertambah dan segera surut dalam waktu cepat.
Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia (UI) M Azis Muslim menilai penyedotan dengan pompa mobile saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan banjir rob di Jalan RE Martadinata, karena itu hanya merupakan solusi sementara.
Ia menyarankan agar pemerintah juga melakukan penanganan secara permanen atau jangka panjang, salah satunya adalah dengan pembangunan tanggul.
“Beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan beberapa usulan untuk melakukan percepatan penanganan ini mau tidak mau pembangunan tanggul yang lebih tinggi untuk mencegah air laut,” tutur Azis saat dihubungi
Kompas.com,
Senin.
Dengan pembangunan tanggul yang lebih tinggi dan kokoh, air laut dari Kali Ancol tidak akan mudah meluap dari atas atau dari celah-celah seperti yang terjadi sekarang ini.
Selain pembangunan tanggul, perbaikan drainase juga sangat dibutuhkan agar ketika air laut meluap bisa surut dalam waktu cepat. Tanpa adanya perbaikan drainase maka banjir rob di lokasi ini akan sulit untuk teratasi.
Selain membangun tanggul dan perbaikan drainase, pemerintah juga harus memperhatikan pembangunan tol di sepanjang Jalan RE Martadinata yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Kalau kita lihat Jalan RE Martadinata dan JIS itu tadi memang memiliki satu kondisi yang harus kita perhatikan, apalagi saat ini sedang terjadi pembangunan yang cukup masif seperti Tol Harbour yang sedang berproses tentu ini memiliki risiko peningkatan banjir karena pembangunan yang ada di situ,” jelas Azis.
Ia juga menyarankan agar pemerintah segera melakukan evaluasi secara menyeluruh supaya penanganan banjir rob yang dilakukan ke depan bisa berhasil.
Tanpa adanya evaluasi total, dikhawatirkan pembangunan tanggul dan perbaikan drainase ke depannya tidak akan ampuh menghentikan banjir rob di lokasi ini.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.