41 Hari Pascabanjir, Kampung Durian Aceh Tamiang Masih Gelap, Penuh Lumpur dan Bau Menyengat Regional 6 Januari 2026

41 Hari Pascabanjir, Kampung Durian Aceh Tamiang Masih Gelap, Penuh Lumpur dan Bau Menyengat
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        6 Januari 2026

41 Hari Pascabanjir, Kampung Durian Aceh Tamiang Masih Gelap, Penuh Lumpur dan Bau Menyengat
Tim Redaksi
ACEH TAMIANG, KOMPAS.com
– Kampung Durian yang terletak di Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, masih belum teraliri listrik hingga memasuki hari ke-41 pascabencana banjir bandang.
Pantauan Kompas.com di lokasi pada Selasa (6/1/2026), terlihat bahwa listrik hanya mengaliri sebagian wilayah di
Aceh Tamiang
yang terdampak bencana.
Salah satu daerah yang infrastruktur kelistrikannya belum pulih ialah
Kampung Durian
yang berbatasan dengan Kota Kuala Simpang, Karang Baru.
Listrik sudah mulai mengaliri kawasan Kota Kuala Simpang yang merupakan pusat kota Aceh Tamiang, meskipun masih menggunakan sistem mati nyala sesuai waktu.
Namun, tepat di titik perbatasan antara Kota Kuala Simpang dengan Kampung Durian terlihat pemandangan kontras pada malam hari.
Deretan permukiman warga yang mengarah ke kaki gunung terlihat masih gelap total tanpa ada cahaya sedikit pun.
Padahal, kondisi di pusat kota sudah mulai perlahan pulih dan ramai dengan aktivitas warga.
Selain masalah listrik, akses menuju kawasan perbatasan ini juga sangat memprihatinkan.
Jalanan dipenuhi lumpur basah yang tebal, membuat pejalan kaki kesulitan melintas dan kendaraan roda dua rawan tergelincir.
Indra (37), salah satu warga, menyebut kondisi gelapnya Kampung Durian disebabkan oleh kerusakan parah pada infrastruktur penunjang kelistrikan.
“Memang kan rusak semua itu, belum benar kabelnya, belum bisa mengalir ke sana (Kampung Durian) listriknya,” kata Indra saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa.
Indra juga mengeluhkan kondisi lingkungan yang masih jauh dari kata pulih.
Meski air sudah surut, endapan lumpur yang tertinggal menimbulkan aroma tidak sedap yang mengganggu warga yang bertahan di tenda maupun rumah.
“Lumpur-lumpur ini pun bau menyengat. Mungkin karena binatang atau bakteri lain itu masih tertimbun di dalam tanah ini, jadi menyengat baunya, aromanya enggak sedap kami hirup,” ungkap Indra.
Banjir susulan masih mengancam setiap kali hujan turun, akibat saluran air yang masih tersumbat total oleh tanah dan material banjir.
“Kalau hujan memang ini banjir lagi. Minimal itu sebetis kitalah. Karena parit-paritnya pada tersumbat dengan tanah sehingga airnya tidak mengalir semua,” tambahnya.
Salah satu yang semakin menyulitkan proses pemulihan adalah permasalahan warga yang dihadapkan pada persoalan biaya pembersihan lingkungan.
Indra mengaku, meskipun ada bantuan alat berat dari relawan TNI dan organisasi kemanusiaan, warga setempat masih dimintai iuran uang.
“Cuma ini memang (alat berat) belum tersentuh atau
gimana
, kita kalau umpamanya tersentuh sudah ya, cuma kita harus mengeluarkan dana juga,” kata Indra.
Indra menyebut tiap rumah dikenakan biaya sebesar Rp 200.000 untuk operasional alat berat saat membersihkan lumpur.
“Saya kurang paham (untuk apa), tetapi setiap rumah dikutip dana sekitar 200 ribu. Ya untuk bersih di gang-gang sinilah. Mereka sudah mengatakan sama saya,” tuturnya.
Indra tak menampik bahwa iuran tersebut memberatkan, terutama bagi warga yang harta bendanya ludes tersapu banjir.
Namun, warga cenderung pasrah demi lingkungan rumah mereka bisa kembali bersih.
“Kami sebenarnya keberatan dalam keadaan dan posisi seperti ini, sangat keberatan ya. Tetapi mau bagaimana juga? Kami harus juga mengikhlaskanlah namanya, kami mau rumah bersih,” kata dia.
Indra sendiri memutuskan untuk membayar uang tersebut karena tak sanggup lagi tidur di tenda pengungsian yang tak nyaman bagi dia dan anaknya.
“Karena posisi saya kan di Posko 1. Posko 1 ini kemarin itu saya memang yang jaga, tetapi karena itu tadi, lumpurnya enggak sanggup karena saya sama anak saya ini dua, tidurnya di tenda saat hujan. Bau, enggak nyaman,” ucap dia.
Bagi warga yang tak memiliki uang, para warga pun akhirnya saling bergotong royong dan memberikan subsidi untuk saling meringankan.
Indra pun berharap pemerintah dapat segera turun tangan mempercepat pemulihan total, terutama pengangkutan sisa lumpur yang masih menumpuk di badan jalan dan permukiman warga.
“Untuk pemerintah ya mohon kalau bisa ya secepat mungkin kita harus bisa pulih dari lumpur-lumpur ini. Karena lihatlah kondisi saat ini yang sebagian sudah dibuang lumpur-lumpurnya, tetapi masih juga tetap banyak kan,” tuturnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.