Melalui program Dospulkam, limbah kulit kopi tersebut kini diolah menjadi pakan mash (tepung halus) berkualitas untuk kambing. Proses pengolahannya cukup sederhana: kulit kopi dikeringkan secara alami di bawah sinar matahari hingga kadar airnya menurun, kemudian digiling menggunakan mesin grinder hingga berbentuk mash.
Produk akhir ini digunakan sebagai campuran pakan kambing, menggantikan sebagian kebutuhan pakan tambahan seperti konsentrat yang harganya lebih mahal. Peternak cukup memberikan pakan kulit kopi ini secara bergantian dengan hijauan.
“Dari sisi nutrisi, kulit kopi kering memiliki kandungan serat kasar dan energi yang cukup baik untuk pakan ruminansia, khususnya kambing,” jelas Prof Yuli.
Uji coba di lapangan juga menunjukkan kambing tetap mau mengonsumsi pakan mash ini, tidak menunjukkan penurunan nafsu makan, bahkan bobot badan tetap naik secara normal. Kandungan serat dalam kulit kopi membantu fermentasi rumen, meski tetap diperlukan pengaturan dosis agar tidak melebihi ambang batas serat kasar dalam ransum.
Tidak hanya berdampak pada peternakan, program ini juga membawa manfaat lingkungan. Volume limbah kulit kopi di desa mulai berkurang, bau menyengat pun tidak lagi tercium sekuat sebelumnya. Selain itu, risiko pencemaran air dan tanah akibat limbah kopi dapat ditekan.
“Ini menjadi bukti bahwa pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular dapat menciptakan nilai tambah sekaligus menyelesaikan masalah lingkungan,” tegasnya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3637888/original/035605600_1637317405-20211119-Ekspor-kopi-nasional-alamai-kenaikan-Angga-5.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)