Minim Air Bersih, Pengungsi Banjir Aceh Tamiang Terserang Penyakit

Minim Air Bersih, Pengungsi Banjir Aceh Tamiang Terserang Penyakit

Aceh Tamiang, Beritasatu.com – Sejumlah pengungsi di Posko Pengungsian Jembatan Kuala Simpang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, mulai mengalami gangguan kesehatan pascabanjir. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terdampak.

Sejak air banjir surut, debu dari lumpur yang mengering beterbangan di sekitar area pengungsian. Kondisi ini memicu meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), disertai keluhan batuk, pilek, hingga demam dalam sepuluh hari terakhir.

Situasi tersebut diperparah oleh buruknya sanitasi serta keterbatasan air bersih di lokasi pengungsian.

Dokter relawan di posko kesehatan dokter Ilham Mufid mengatakan, penyakit yang paling banyak ditangani saat ini adalah diare, demam, dan ISPA. Setiap harinya, puluhan pengungsi datang untuk menjalani pengobatan.

“Tiga penyakit itu memang paling banyak kami tangani. Debu meningkat dan air sanitasi belum bersih, sehingga memicu munculnya penyakit tersebut,” ujar dokter Ilham kepada wartawan, Senin (15/12/2025).

Ia menjelaskan, sebagian besar pasien masih dapat ditangani dengan rawat jalan dan observasi di posko kesehatan. Namun, pengungsi dengan kondisi lebih serius akan dirujuk ke rumah sakit.

“Untuk kasus yang membutuhkan penanganan lanjutan, kami rujuk ke RSUD Langsa dan RSUD Aceh Tamiang,” tambahnya.

Terkait kebutuhan medis, dokter Ilham menyebut, obat diare, batuk, pilek, serta penurun demam menjadi yang paling dibutuhkan.

Selain itu, banyak pengungsi mengalami luka akibat menginjak pecahan kaca, paku, dan sisa material bangunan yang tertimbun lumpur.

“Yang luka cukup banyak karena tidak menggunakan alas kaki. Material bangunan masih berserakan di lumpur,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, tim medis mengimbau pengungsi untuk menggunakan masker guna mengurangi paparan debu.

Sementara itu, Juwita Sari, pengungsi asal Desa Suka Jadi, Karang Baru, mengungkapkan anak-anak di pengungsian sangat mudah jatuh sakit. Bayinya yang berusia satu tahun bahkan sudah beberapa kali mengalami gangguan kesehatan sejak tinggal di posko.

“Sering sakit sejak di sini. Bayi saya sudah tiga sampai empat kali sakit. Kalau malam hujan, tenda basah, siang panas sekali,” ujarnya.

Anaknya kerap mengalami demam, batuk, dan pilek. Meski tersedia layanan kesehatan, kondisi lingkungan yang tidak mendukung membuat anak-anak tetap rentan terserang penyakit.

Juwita juga mengenang kondisi sulit saat banjir pertama kali melanda. Ketiadaan air bersih memaksanya memberikan air hujan, bahkan air banjir, kepada anaknya untuk diminum.

“Waktu itu belum ada air bersih. Kalau hujan, saya kasih air hujan. Kalau tidak, ya air banjir itu. Makan pun seadanya,” tuturnya dengan suara lirih.

Ia mengaku, sedih dan takut akan dampak air banjir yang keruh dan bercampur lumpur terhadap kesehatan anaknya.

“Itu air lumpur sisa banjir. Sambil kasih minum sambil nangis, takut berdosa, tapi kalau tidak dikasih dia haus,” katanya.