PIKIRAN RAKYAT – Sembilan tenaga medis dan sejumlah petugas Pertahanan Sipil dari Palang Merah Palestina (PRCS) dibunuh Israel Penjajah, jenazah ditemukan tertumpuk bersama ambulans yang membawa mereka.
Sebelumnya, rombongan itu pergi untuk membantu orang-orang di Rafah, Gaza. Nahas, rombongan menghilang pada 23 Maret 2025, setelah ditembaki oleh pasukan Israel.
Selanjutnya, meski dihadang akses dari Israel, sepekan kemudian tim internasional akhirnya bisa memasuki area di mana para tenaga medis dan pekerja penyelamat “hilang”.
Mereka temukan bukti mengerikan tentang serangan langsung terhadap pekerja kemanusiaan tersebut. Satu tenaga medis bahkan masih hilang. Berikut informasi selengkapnya:
Pasukan Israel Bunuh Medis dan Relawan
Sebuah ambulans dikirim ke al-Hashaashin, Rafah, untuk membantu orang-orang yang terluka akibat serangan Israel pada Minggu, 23 Maret lalu. Pasukan Israel menembaki ambulans tersebut, melukai para krunya.
“Pada pagi hari Minggu, 23 Maret, rekan-rekan kami dari Palang Merah Palestina sedang memasuki area al-Hashaashin, Rafah untuk menyelamatkan nyawa dan mereka diserang,” kata Tommaso Della Longa, juru bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), kepada Al Jazeera.
PRCS kemudian mengirim tiga ambulans tambahan untuk membantu orang-orang yang terluka dan menyelamatkan rekan-rekan mereka yang telah diserang.
Semua tim yang dikirim untuk mendukung ambulans awal beroperasi pada siang hari.
“(PRCS) kehilangan kontak dengan rekan-rekan mereka, dan mulai berusaha untuk menemukannya,” kata Della Longa,
Siapa Saja Medis dan Relawan yang Dibunuh Israel?
Ada tiga petugas ambulans yang tewas, yakni Ezzedine Shaath, Mostafa Khafaga, dan Saleh Muamer. Tugas mereka semasa hidup adalah mengangkut yang terluka serta memberikan perawatan medis darurat.
Ada juga lima sukarelawan petugas tanggap pertama, Ashraf Abu Labda, Mohammad Bahloul, Mohammed al-Heila, Raed al-Sharif, dan Rifatt Radwan.
“Petugas ambulans Assad al-Nassasra masih hilang. Kami tidak tahu di mana dia,” kata Della Longa.
“Rekan-rekan yang dibunuh dan ditemukan meninggalkan lebih dari 20 anak,” ucap dia lagi.
Sejak 7 Oktober, Israel total telah membunuh 30 sukarelawan dan staf Palang Merah Palestina pekerja kemanusiaan yang dilindungi oleh hukum kemanusiaan internasional.
Menurut PRCS, Jenazah 14 orang yang dibunuh di antaranya ditemukan di sebuah kuburan massal yang dangkal.
Delapan orang diidentifikasi sebagai petugas medis PRCS, lima orang sebagai petugas Pertahanan Sipil, dan satu orang adalah karyawan lembaga PBB.
Bagaimana Mereka Dibunuh?
Juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Palestina melaporkan, mereka dibunuh satu per satu kemudian dikuburkan di pasir bersama dengan kendaraan darurat mereka.
“Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa tim pertama dibunuh oleh pasukan Israel pada 23 Maret, dan bahwa kru darurat dan bantuan lainnya diserang satu per satu selama beberapa jam saat mereka mencari rekan-rekan mereka yang hilang,” kata dia.
“Jenazah mereka dikumpulkan dan dikuburkan dalam kuburan massal ini. Kami menggali mereka (masih) dalam seragam mereka, dengan sarung tangan mereka masih ada. Mereka ada di sini untuk menyelamatkan nyawa. Ambulans-ambulans ini sudah terkubur di pasir. Ada kendaraan PBB di sini, …bulldozer pasukan Israel telah menguburkan mereka,” kata kepala OCHA, Jonathan Whittall, dari lokasi kejadian.
Israel Sebut ‘Pembunuhan Tak Disengaja’
Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, menyatakan bahwa kematian tenaga medis tersebut bukan sengaja dibunuh.
Ia mengklaim bahwa pasukan Israel menembaki kendaraan yang mencurigakan tanpa sinyal darurat dan menganggap ada “teroris” di antara pekerja penyelamat.
Shoshani juga menyebut bahwa mereka menyingkirkan seorang anggota militer Hamas, namun klaimnya tidak sesuai dengan identitas jenazah yang ditemukan di kuburan massal.
Ia lantas tidak menjelaskan fakta bahwa satu jenazah ditemukan dengan tangan terikat, dan bulldozer Israel mencoba mengubur kendaraan-kendaraan tersebut.
Klaim Israel mengenai serangan Hamas dari fasilitas medis di Gaza sering kali bertentangan dengan informasi yang tersedia, demikian menurut kepala hak asasi manusia PBB, Volker Turk.
Bagaimana Para Jenazah Ditemukan?
Della Longa mengatakan, selama seminggu penuh, IFRC, PRCS, ICRC, dan PBB mengajukan permohonan kepada otoritas Israel untuk memasuki area tersebut supaya melakukan penyelidikan.
Israel menolak mentah-mentah, namun akhirnya terbuka akses masuk untuk mencari pekerja penyelamat yang hilang.
Video dari lokasi kejadian menunjukkan para pencari yang menggali beberapa jenazah yang mengenakan rompi darurat oranye, beberapa tertumpuk satu sama lain.
Satu jenazah yang mengenakan rompi Pertahanan Sipil ditarik keluar dari kuburan hanya untuk para pencari menyadari bahwa itu adalah tubuh bagian atas tanpa kaki.
“Para pekerja ambulans yang berdedikasi ini sedang merespons orang-orang yang terluka… Mereka mengenakan lambang yang seharusnya melindungi mereka (saat perang); ambulans mereka jelas-jelas ditandai. Mereka seharusnya kembali ke keluarga mereka,” ucap Sekretaris Jenderal IFRC Jagan Chapagain.
“Bahkan di zona konflik yang paling kompleks, ada aturan yang sangat jelas – warga sipil harus dilindungi; pekerja kemanusiaan harus dilindungi. Layanan kesehatan harus dilindungi. Jaringan kami berduka, tetapi ini tidak cukup… Saya bertanya sekali lagi: ‘Kapan ini akan berhenti?’ Semua pihak harus menghentikan pembunuhan, dan semua pekerja kemanusiaan harus dilindungi,” tuturnya menegaskan.
Della Longa menyoroti bahwa setengah dari ambulans di Gaza sudah tidak berfungsi, baik karena rusak atau karena kekurangan bahan bakar. ****
Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News