9 Heboh Patung Macan Putih di Kediri yang Mirip Zebra, Kades Beri Penjelasan Surabaya

9
                    
                        Heboh Patung Macan Putih di Kediri yang Mirip Zebra, Kades Beri Penjelasan
                        Surabaya

Heboh Patung Macan Putih di Kediri yang Mirip Zebra, Kades Beri Penjelasan
Tim Redaksi
KEDIRI, KOMPAS.com
– Keberadaan sebuah patung macan di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur menyita perhatian publik, terutama di dunia maya.
Bentuk
patung macan
hitam putih berukuran panjang 1,5 meter, lebar 1 meter, serta tinggi keseluruhan termasuk pondasi tumpuan 2,5 meter itu menjadi sorotan. 
Bentuk patung yang baru saja selesai pembangunan tersebut dianggap gagal menghadirkan sosok harimau karena tidak mewakili penampakan sebagaimana wujud realita harimau pada umumnya.
Selain itu, bentuknya juga tidak proporsional. Lebih mirip gabungan dari hewan kuda nil, zebra, dan tapir.
Namun demikian, tak sedikit yang mempunyai sudut pandang berbeda bahkan mengapresiasinya. Kubu ini memandangnya sebagai sebuah luapan ekspresi seni.
“Kalau aliran surealis, ya suka-suka seniman pematungnya. Juga ada ekspresionisme, yang enggak melulu meniru alam,” ujar M Prastiyo, seorang pelaku seni, Minggu (18/12/2025).
Oleh sebab itu, pria yang akrab dengan sapaan Cak Mad ini mengatakan, perlu ditinjau latar belakang dan fungsi pembuatan patung tersebut untuk mengetahui kejelasannya.
“Makanya perlu dicek latarbelakang dan fungsi maupun kesepakatan awal pembangunan patung tersebut,” ucap Cak Mad.
Sementara itu, Kepala
Desa Balongjeruk
, Safii mengatakan, pembuatan patung tersebut merupakan inisiatifnya yang sebelumnya telah mendapatkan persetujuan melalui sejumlah rapat desa.
“Tujuannya adalah untuk mengangkat legenda desa sebagai
ikon desa
. Kebetulan desa kami ada
legenda macan putih
,” ujar Safi’i pada
Kompas.com
, Sabtu (27/12/2025).
Safi’i mengatakan, niatan awal pembangunan patung tersebut cukup mulia karena untuk menjunjung tinggi legenda desa yang selama ini terpelihara secara turun temurun melalui tutur lisan.
Untuk itu, dia berupaya mengangkatnya menjadi ikon desa supaya mempertegas cerita tersebut sekaligus sebagai pengingat bagi generasi selanjutnya.
Atas niatan itu pula, dirinya mulai mencari pembuat patung. Kebetulan terdapat warga setempat yang juga selama ini dikenal sebagai pembuat patung.
Patung yang terbuat dari campuran besi dan semen tersebut mulai dikerjakan bulan lalu dan berhasil selesai dalam tenggat waktu 18 hari.
“Namun ternyata setelah selesai, banyak mendapatkan respons dari masyarakat,” ujar Safi’i.
Dia juga merasa kaget dengan hasil pembuat patung tersebut yang ternyata wujudnya jauh dari perencanaan awal.
“Ternyata hasilnya seperti yang kita ketahui itu,” ujar dia.
Meski demikian, dalam menyikapi viralnya patung tersebut, pihaknya tidak lantas gerah apalagi memarahi pembuat patungnya.
Ia menganggap semuanya adalah masukan untuk pengembangan kemajuan desanya.
“Semuanya kita tampung karena kritik dan saran itu sangat penting bagi kemajuan bersama,” kata Safi’i. 
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.