Studi: Pasien Transplantasi Organ Butuh 3 Kali Suntik Vaksin Covid-19?

17 June 2021, 2:41

Petugas medis mempersiapkan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech yang akan disuntikan pada warga. Otorotas Norwegia mengatakan 23 orang yang telah meninggal, 13 kematian kemungkinan bisa disebabkan, secara langsung, oleh efek samping vaksin Covid-19. REUTERS/Ciro De Luca

TEMPO.CO, Jakarta – Sebuah studi menemukan efek vaksin Covid-19 bisa lebih efektif setelah pemberian dosis ketiga pada penerima transplantasi organ. Dosis ketiga sejatinya diplot hanya sebagai booster dari dua dosis suntikan yang telah ditetapkan melalui uji klinis si vaksin. 

Peneliti dari Johns Hopkins University mengamati pasien Covid-19 yang juga penerima transplantasi organ. Mereka mendapati pasien yang memiliki tingkat antibodi rendah setelah dua dosis pertama, baru mengalami peningkatan setelah dosis ketiga. 

Peningkatan terbesar mencapai 687 kali lipat. Mereka juga menemukan bahwa sepertiga pasien yang mengembangkan tingkat antibodi negatif—berarti tidak memiliki sel yang melawan kekebalan—dari dua dosis pertama mulai menunjukkan peningkatan tingkat antibodi pada dosis ketiga.  

“Kami percaya, ini bisa berarti dosis ketiga lebih efektif daripada dua sebelumnya untuk beberapa individu. Meskipun belum bisa memastikannya,” kata para peneliti, seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa 15 Juni 2021.

Penelitian itu diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine edisi Senin, 14 Juni 2021. Di sana disebutkan, pengamatan dilakukan terhadap 30 pasien Covid-19 yang telah menjalani transplantasi jantung, ginjal, hati, paru-paru atau pankreas. Beberapa telah menjalani transplantasi setahun lalu dan yang lainnya hingga 18 tahun yang lalu. 

Semua pasien mendapat dua kali suntikan vaksin Covid-19 dari Pfizer-BioNTech dan Moderna, dan menerima dosis ketiga dari vaksin tersebut atau dari vaksin Johnson & Johnson. Sebanyak enam pasien yang dalam penelitian yang melaporkan tingkat antibodi rendah melaporkan tingkat antibodi meninggi dua minggu setelah menerima dosis ketiga vaksin. 

Dari 24 pasien dengan reaksi antibodi negatif, enam yang juga mengembangkan respons antibodi tinggi setelah menerima suntikan ketiga. Sedang dua mengembangkan respons antibodi rendah dan 16 sisanya masih memiliki respons antibodi negatif.

Penulis utama penelitian itu, William Werbel, menjelaskan bahwa dosis vaksin tambahan (dengan vaksin yang sama atau berbeda) dapat memberi sistem kekebalan kesempatan lain untuk “melihat” dan merespons protein virus dalam vaksin. Itu menjadi alasan Werbel mengapa suntikan yang ketiga mungkin lebih efektif. 

Namun, dia menambahkan, ini mungkin diperlukan untuk pasien transplantasi tertentu dengan respons imun yang lamban terhadap protein asing—konsekuensi dari obat harian yang mereka konsumsi untuk menekan kekebalan tubuh. Suntikan ketiga, kata dia lagi, dapat meningkatkan memori kekebalan tingkat rendah. 

“Strategi ini telah digunakan untuk virus lain seperti influenza dan hepatitis B,” tutur Werbel.

Sementara, sebuah studi lain menemukan bahwa pasien transplantasi ginjal yang menggunakan terapi imunosupresan lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan antibodi setelah menerima kedua dosis vaksin. Kemungkinannya dihitung hanya 18 persen. 

Orang-orang yang telah menggunakan vaksin Covid-19 dianalisis untuk mengobati kondisi ginjal mereka, dan 90 persen kemungkinannya untuk mengembangkan antibodi. Namun, tingkat antibodi yang benar-benar penting belum ditentukan, karena para peneliti tidak yakin apakah ada ambang batas untuk kekebalan.  

Ada juga kasus pasien transplantasi yang divaksinasi dengan tingkat antibodi yang rendah yang tertular virus. Para peneliti percaya bahwa dosis ketiga dari vaksin, yang seringkali merupakan suntikan booster yang dimaksudkan untuk melindungi orang dari Covid-19 varian baru dapat dimasukkan ke dalam resimen pengobatan penerima transplantasi untuk melindungi mereka. 

Namun, mereka akan membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk dilakukan pada penerima transplantasi dan suntikan booster terlebih dahulu. Penulis juga masih merekomendasikan bahwa, terlepas dari hasil ini, rangkaian suntikan standar harus tetap digunakan pada semua pasien. 

“Mengingat keamanan dan efektivitas yang sangat baik dari seri vaksin standar Covid-19 pada populasi umum, vaksin ini harus terus, dan tetap direkomendasikan oleh semua organisasi pemerintah dan lembaga transplantasi,” kata Werbel.  

Efektivitas vaksin Covid-19 juga diragukan pada pasien kanker, karena penelitian bulan lalu menemukan bahwa satu dari sepuluh pasien kanker menghasilkan respons antibodi yang rendah terhadap vaksin.

DAILY MAIL | ANNAL OF INETRNAL MEDICINE

Baca juga:
Koin Menempel di Bekas Suntikan Vaksin Covid-19, Ini Penjelasan Para Ahli


https://tekno.tempo.co/read/1473427/studi-pasien-transplantasi-organ-butuh-3-kali-suntik-vaksin-covid-19

Tokoh

Partai

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Kab/Kota

Provinsi

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi