Siswa SD Di-bully Guru Karena Nggak Bisa Jawab Soal, KPAI Geram

3 November 2021, 12:02

RM.id  Rakyat Merdeka – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti aksi perundungan (bully) yang dilakukan guru, terhadap seorang siswi kelas VI SD di Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra) karena tak bisa menjawab soal.

Apalagi, aksi bully terhadap siswa yang baru saja menjalankan sekolah tatap muka itu direkam.

“Anak-anak memiliki hak untuk rasa aman, rasa dilindungi, dan rasa dihargai. Apakah mempermalukan di depan umum, menyebabkan anak SD itu bisa menghitung?” kata Komisioner KPAI Jasra Putra, seperti keterangannya yang diterima RM.id, Rabu (3/11).

Jasra pun menyinggung soal Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82/2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.

Baca Juga : Polres Depok: Belum Tentu Gantung Diri Karena Pinjol

“Kita sedang membayangkan, ketika anak di rumah di-bully, di sekolah di-bully, di lingkungan di-bully, lalu siapa yang akan menyelamatkan mereka. Padahal sudah jelas, dalam rekomendasi Hari Anak Nasional (HAN) 2021, ada kebutuhan berbeda dari setiap anak dalam menjalani hari-hari belajarnya,” papar Jasra.

Dia pun mengingatkan kekerasan yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Guru di Alor membunuh muridnya, karena tidak mengerjakan PR dengan tangan sang guru menghantam kepalanya. Artinya, pandemi Covid-19 ini memberi dampak fatal ke setiap individu, termasuk guru,” ungkap Jasra.

Karena itu, dia meminta transisi pembelajaran jarak jauh (PJJ), dengan pembelajaran tatap muka (PTM) diperhatikan.

Baca Juga : Bertemu Okto Di Italia, IFSC Puji Popularitas Panjat Tebing Indonesia

Jasra khawatir, masa transisi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ke PTM ini yang diperhatikan, akan menimbulkan banyak gangguan perilaku yang muncul di dunia pendidikan.

Dia pun mendesak sekolah untuk membenahi ketertinggalan yang dialami para murid, akibat pandemi.

“Janganlah konsep Merdeka Belajar yang diusung selama 2 tahun pandemi ini berakhir menjadi tangisan. Karena anak sudah mengalami loss learning, loss protection, dan terakhir loss generation,” tegasnya.

KPAI juga meminta orang tua, mendukung upaya sekolah mengatasi ketertinggalan pembelajaran akibat pandemi.

Baca Juga : Manchester City Vs Brugge, Kemenangan Harga Mati

Dia lantas menyinggung tiga dosa di sekolah menurut Mendikbudristek Nadiem Makarim.

“Sepertinya sekolah harus mengingat lagi pesan Mas Menteri atas 3 dosa sekolah. Pertama pendidikan intoleran, pendidikan perundungan, dan kejahatan kekerasan seksual, yang seharusnya tidak terjadi atas nama usaha sadar mendidik dari lembaga pendidikan,” tutur Jasra. [UMM]


https://rm.id/baca-berita/nasional/98110/siswa-sd-dibully-guru-karena-nggak-bisa-jawab-soal-kpai-geram

 

Partai

Institusi

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Negara

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi