Sepanjang 2021 GOTO Masih Catatkan Rugi, Ini Penyebabnya

30 May 2022, 20:06

JAKARTA, KOMPAS.com – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sepanjang tahun 2021 masih mencatatkan rugi. Andre Soelistyo, CEO Grup GoTo mengatakan, rugi bersih perseroan sepanjang tahun 2021 meningkat dari Rp 1,96 triliun menjadi Rp 6,6 triliun.

Rugi bersih kami meningkat dari Rp 1,96 triliun menjadi Rp 6,6 triliun, karena laporan keuangan GOTO dan anak perusahaannya disajikan tanpa Tokopedia. Ini karena penggabungan Gojek dan Tokopedia, selesai dilakukan pada Mei 2021,” kata Andre secara virtual, Senin (30/5/2022).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), rugi diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 21,39 triliun, dibandingkan tahun sebelumnya Rp 14,2 triliun.

Baca juga: Sepanjang Kuartal I 2022, Pendapatan GOTO Tumbuh 53 Persen Jadi Rp 5,2 Triliun

Rugi bersih juga diakibatkan oleh lonjakan beban, mencakup beban pokok pendapatan yang naik menjadi Rp 3,7 triliun dari sebelumnya Rp 2,4 triliun. Kemudian, beban penjualan dan pemasaran menjadi Rp 8,9 triliun dibanding sebelumnya Rp 2,5 triliun.

Kemudian, beban umum administrasi juga melonjak menjadi Rp 7,7 triliun, sementara sebelumnya sebesar Rp 3,9 triliun. Beban pengembangan produk juga naik menjadi Rp 2,4 triliun, dari sebelumnya Rp 2,03 triliun.

Sementara itu, beban penyusutan dan amortisasi juga naik Rp 2,4 triliun dari tahun 2020 sebesar Rp 1,2 triliun. Demikian juga dengan beban operasional dan pendukung yang bertambah menjadi Rp 1,5 triliun dari tahun 2020, sebesar Rp 1,3 triliun.

Baca juga: Menilik Kronologi Investasi Telkom di GOTO, Masih Cuan…

Sementara itu, sepanjang tahun 2021 pendapatan bruto GoTo tumbuh 45 persen yoy mencapai Rp 17,1 triliun dari Rp 11,85 triliun, sementara pendapatan bersih naik 9 persen menjadi Rp 5,30 triliun dari Rp 4,82 triliun.

GTV perusahaan juga naik 40 persen menjadi Rp 461,60 triliun, dibandingkan dengan Rp 330,18 triliun di 2020. Sementara itu, EBITDA yang disesuaikan turun 14 basis poin menjadi Rp 5,4 triliun dibandingkan dengan kuartal IV tahun 2021, sebesar Rp 6,2 triliun.

Angka GTV ini setara dengan 2,72 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di tahun 2021 sebesar Rp 16.970,8 triliun sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS). EBITDA juga mencerminkan adanya tren penurunan kerugian berkat upaya monetisasi perusahaan yang lebih baik serta optimalisasi biaya pengeluaran.

Andre merinci, dari jumlah GTV ini, kontribusi bisnis on-demand services (mobilitas, pesan-antar makanan dan bahan kebutuhan pokok, dan logistik) mencapai Rp 50,31 triliun di 2021, naik 25,21 persen dari Rp 40,18 triliun, e-commerce senilai Rp 230,59 triliun, tumbuh 45,82 persen dari Rp 158,13 trliiun, dan financial technology (fintech) sebanyak Rp 214,91 triliun, melesat 80 persen dari sebelumnya Rp 119,52 triliun.

“Dengan skala bisnis kami secara bersama-sama, kami akan terus memenuhi komitmen dalam meningkatkan inklusi keuangan dalam kawasan yang terus bertumbuh ini dengan potensi pertumbuhannya yang masih dapat diraih,” tambah Andre.

Baca juga: Soal Investasi BUMN di GoTo, Nusron Wahid: Harus Dilihat Jangka Panjang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


https://money.kompas.com/read/2022/05/30/195000926/sepanjang-2021-goto-masih-catatkan-rugi-ini-penyebabnya

 

Partai

Institusi

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi