Santri Terbukti Taktis pada Masa Kritis dan Ideal Mengisi Zaman

23 October 2022, 7:55

PIKIRAN RAKYAT – Pekik takbir membahana menyambut kedatangan pasukan Sekutu yang tiba di Jalan Lengkong, Bandung pada 6 Desember 1945. Rombongan tentara yang dilindungi sejumlah tank dan truk tersebut berniat membebaskan tawanan Belanda di Tuindorp (Jalan Lengkong Tengah) dan Ciateul. Ketika pasukan itu tiba di simpang tiga Jalan Cikawao, pejuang kita yang terdiri dari Sabilillah, Hizbullah (pimpinan Husinsyah), Batalyon II Res.8 Sumarsono, Batalyon Akhmad Wiranatakusumah, dan barisan-barisan lainnya secara gagah berani menyerbu tank tersebut seraya berteriak, “Allahuakbar”. Demikian fragmen heroik tersebut tercantum dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa. Para pejuang kemerdekaan itu menyerbu hanya berbekal senjata sederhana. Mereka kebanyakan membawa bambu runcing, golok, pedang, bambu, dan botol pembakar. Pertempuran sengit berkobar kendati senjata para pejuang serbaterbatas. Sekutu tak cuma mengerahkan pasukan infanteri atau daratnya, melainkan juga mengirim bantuan udara berupa pesawat pengebom B-25, pemburu F-15 Mustang, dan pengintai. Pertempuran yang dimulai pukul 6.00 itu baru berakhir pukul 18.00. Daerah Lengkong dibom musuh dengan B-25. Pertempuran itu menyebabkan banyak korban jiwa yang jatuh, baik dari pejuang Indonesia maupun prajurit Sekutu. Peristiwa tersebut menjadi bukti jasa para santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Bandung. John RW Smail dalam bukunya, Bandung Awal Revolusi 1945-1946, menulis bahwa Hizbullah dan Sabilillah merupakan dua badan perjuangan atau unit militer yang sangat kental dengan nuansa Islam. Anggotanya banyak berasal dari kalangan santri. Kedua kelompok itu juga punya ikatan erat dengan pemimpin Masyumi di Bandung. Di Kota Bandung, kata Smail, terdapat beberapa unit Hizbullah dengan dua kelompok paling penting, yakni pimpinan Aminuddin Hamzah di Cicadas dan Husinsyah di pinggir barat daya kota. Sementara Sabilillah memiliki kekuatan di kawasan perdesaan Bandung. Lalu, bagaimana kisah para santri itu bisa ikut serta dalam palagan perjuangan kemerdekaan? Benedict Anderson, dalam bukunya, Revolusi Pemoeda, melekatkan sosok santri sebagai pemuda yang telah digembleng guna muncul pada masa krisis. Pesantren, barangkali yang paling bisa menggambarkan konsepsi masyarakat tradisional mengenai lembaga yang cocok mempersiapkan pemuda bagi kemunculannya kembali nanti dalam masyarakat. “Pesantren bukan hanya kelanjutan langsung bentuk asrama dari masa praIslam. Dilihat dari segi letak, kebiasaan sehari-hari, semangat, dan bentuk lembaganya, pesantren juga memberi kerangka ideal untuk proses mempersiapkan pemuda tersebut,” kata Benedict. Maka, bukan sekadar kebetulan apabila pesantren ditempatkan di luar lingkungan masyarakat biasa, baik di pinggiran desa atau tempat terpencil lain. “Keterampilan jasmani ini secara simbolis menggambarkan pengunduran diri para santri dari masyarakat, tetapi sekaligus juga secara konkret memperkuatnya,” kata Benedict. Pasalnya, banyak pesantren juga merupakan unit-unit yang mandiri secara ekonomi karena para santri hidup dari hasil bumi pesantren sendiri. Tak ayal, perasaan terpencil tersebut diimbangi tumbuhnya kesadaran otonomi bersama yang kuat. “Selain itu, kebiasaan bekerja keras di ladang, sembahyang, semadi, dan belajar, memberikan sumbangan besar bagi suasana dan semangat khas yang sangat membedakan pesantren dari keadaan sekitarnya,” ucapnya. Empat nilai Benedict merujuk karya skripsi sarjana Samudja Asjari dari Universitas Gadjah Mada pada 1967 tentang kedudukan kiai dalam pondok pesantren. Samudja menguraikan semangat pesantren yang ditempa empat nilai yaitu kesederhanaan, semangat kerja, solidaritas, dan keikhlasan. Mundur dari masyarakat umum dan berada dalam masyarakat pesantren yang tertutup cenderung menciptakan suatu rasa “tak terikat” dalam diri santri atau suatu gerak hati yang lepas dari masyarakat perdesaan yang dikuasai adat ketat. Di sisi lain, pengajaran-pengajaran pesantren biasanya dianggap sebagai ambang menuju sumber-sumber rahasia batiniah dan kasekten yang menciptakan energi spiritual sendiri. Bagi para santri dan masyarakat asal mereka, tutur dia, pesantren merupakan pemusatan kekuatan. Tak pelak, masa-masa krisis, seperti revolusi kemerdekaan 1945, negeri ini menjadi panggung para santri dan pemuda sebagai kekuatan revolusioner. “Pentingnya pesantren pada masa-masa krisis bukan hanya bahwa mereka sering menyediakan pimpinan bagi pemberontakan-pemberontakan perdesaan, tetapi juga kelompok-kelompok santri itu bertambah banyak pada saat-saat tegang, ketika irama masyarakat normal sedang goncang,” kata Benedict. Kala kehidupan yang mapan dirongrong perang, penindasan, atau bencana ekonomi, tapabrata dan semangat kelompok-kelompok masyarakat serupa pesantren bakal beroleh pamor dan kewibawaan yang tak mungkin didapat pada masa damai. Pada Sabtu 22 Oktober 2022, Hari Santri Nasional kembali diperingati. Momentum itu menjadi peringatan akan kontribusi para santri dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Selamat Hari Santri Nasional 2022!***

Tokoh

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi