Sanksi Barat Berjatuhan ke Rusia, Kenapa Serangan ke Ukraina Tak Surut?

31 May 2022, 10:03

Pasukan pro-Rusia mengendarai tank di sepanjang jalan melewati bangunan tempat tinggal yang hancur selama konflik Ukraina-Rusia di kota Popasna di Wilayah Luhansk, Ukraina 26 Mei 2022.Ribuan tentara menyerang dari tiga sisi untuk mencoba mengepung pasukan Ukraina di Sievierodonetsk dan Lysychansk.  REUTERS/Alexander Ermochenko

TEMPO.CO, Jakarta – Para pemimpin negara-negara Uni Eropa kembali bertemu membahas sanksi untuk Rusia yang bisa memaksa Presiden Vladimir Putin menghentikan invasinya ke Ukraina.

Pertemuan di Brussels pada Senin dan Selasa ini, 30-31 Mei 2022, menyiapkan paket sanksi keenam untuk Rusia. Sampai Senin malam, sudah disepakati Uni Eropa akan menghentikan impor minyak dari Rusia sebesar 90 persen. Sisanya, 10 persen, adalah kesempatan untuk negara tanpa laut yang tergantung dari pasokan minyak Rusia melalui pipa seperti Hongaria, Slovakia dan Republik Ceko.

Keputusan menutup keran impor yang akan berlaku pada akhir tahun ini, bisa menjadi kabar gembira bagi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang sebelumnya mengecam para pemimpin Uni Eropa yang dinilainya terlalu lunak terhadap Moskow.

“Mengapa Anda bergantung pada Rusia, pada tekanan mereka, dan bukan sebaliknya? Rusia harus bergantung pada Anda. Mengapa Rusia masih dapat memperoleh hampir satu miliar euro per hari dengan menjual energi?” kata Zelenskiy.

Zelensky pantas gusar, karena cengkeraman Rusia makin kuat. Setelah merebut Mariupol yang merupakan akses ke Laut Tengah, Rusia kini menggempur wilayah Donbas di Ukraina timur.

Uni Eropa telah meluncurkan lima putaran sanksi sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari, menunjukkan kecepatan dan persatuan yang tidak seperti biasanya mengingat kompleksitas tindakan tersebut.

Ditambah sanksi dari Amerika Serikat dan sekutu lain seperti Kanada, Jepang, Australia dan Korea Selatan, seharusnya cukup efektif untuk menekan Rusia agar mau menghentikan serangannya ke Ukraina.

Negara-negara Barat memberlakukan sanksi yang semakin meluas – menargetkan individu, bank, bisnis dan perusahaan milik negara besar, dan ekspor.

Di bidang keuangan, aset bank sentral Rusia dibekukan, untuk menghentikannya menggunakan 630 miliar dolar dari cadangan mata uang asing. 

Amerika Serikat melarang Rusia melakukan pembayaran utang menggunakan 600 juta dolar uangnya di bank-bank AS, sehingga mempersulit pembayaran kembali pinjaman internasionalnya. 

Bank-bank besar Rusia telah dihapus dari sistem pesan keuangan internasional Swift. Ini akan menunda pembayaran ke Rusia untuk ekspor energi karena Swift menghubungkan 11.000 bank dan institusi di lebih dari 200 negara

Lebih dari 1.000 perusahaan internasional menangguhkan perdagangan di Rusia, atau ditarik sama sekali – termasuk McDonalds, Coca-Cola, Starbucks, dan sekarang Marks & Spencer.

Akibatnya, rubel turun 22%, mendorong naiknya harga barang-barang impor dan menyebabkan kenaikan 14% pada tingkat inflasi Rusia. Rubel kemudian pulih, tetapi terutama karena tindakan Moskow untuk menopangnya.

Didorong oleh kontrol modal, rubel telah meningkat menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di dunia sepanjang tahun ini hingga penurunan minggu lalu. Persyaratan pembayaran gas baru untuk konsumen UE yang memerlukan konversi mata uang asing menjadi rubel dan penurunan impor telah mendukung rubel.

Rusia juga mendapatkan banyak pembeli baru minyaknya setelah diembargo AS dan Uni Eropa, seperti Pakistan. Sementara gasnya masih menjadi sumber utama Eropa.

Itu sebabnya Presiden Zelensky tidak banyak berharap sanksi ke Rusia untuk menyelamatkan negaranya. Ia menyatakan perlu pasokan senjata untuk perang jarak jauh untuk menghalau pasukan musuh. Dan AS sedang mempertimbangkan meluluskannya.


https://fokus.tempo.co/read/1596735/sanksi-barat-berjatuhan-ke-rusia-kenapa-serangan-ke-ukraina-tak-surut

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Topik

Kasus

Agama

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi