Sambut Ramadan, Masyarakat Temanggung Gelar Tradisi Padusan

2 April 2022, 18:03

Suasana Umbul Sungsang di Pengging, Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (8/4/2021). Tempat pemandian itu biasa menjadi tempat warga melaksanakan padusan menjelang Ramadhan. (ANTARA/Bambang Dwi Marwoto)

TEMPO.CO, Jakarta – Sehari menjelang puasa Ramadan 1443 Hijriah, masyarakat Kabupaten Temanggung Jawa Tengah melakukan tradisi padusan di sejumlah sumber mata air. Tradisi itu merupakan simbol pembersihan lahir dan batin.

Berdasarkan pantauan di Temanggung, tampak anak-anak di Lingkungan Bendo Kelurahan Kertosari Kecamatan Temanggung menggelar ritual padusan dengan mandi di Mata Air Rowali yang menjadi salah satu sumber air bagi masyarakat setempat. Sejak Sabtu pagi, 2 April 2022, anak-anak sudah mulai berdatangan di Mata Air Rowali dan menjadi semakin ramai pada siang dan sore hari.

“Airnya sangat segar. Kami selalu padusan di Rowali sebelum puasa. Tidak perlu berdesak-desakan karena kalau di kolam renang ramai dan harus membayar,” kata Wahyu, 10 tahun, yang bersama temannya ikut tradisi itu.

Wahyu lebih senang melakukan padusan di Rowali ketimbang harus ke lokasi wisata pemandian yang ada di Temanggung. Di sini bisa mandi bersama teman-teman dan gratis.

Selain di Rowali, masyarakat memilih Pikatan Waterpark Temanggung sebagai lokasi padusan. Namun jumlah pengunjung menurun pada Ramadhan tahun ini.

Pelaksana Tugas Direktur Perumda Bhumi Phala Wisata selaku pengelola Pikatan Water Park Bagus Pinuntun menyampaikan jumlah pengunjung padusan tahun ini turun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelum pandemi. Pada padusan Jumat, 1 April 2022, jumlah pengunjung hanya berkisar 1.500 orang dan hari ini jumlah pengunjung diperkirakan hampir sama dengan sehari sebelumnya.

“Jumlah pengunjung pada momentum padusan tahun ini masih kalah jauh pada padusan tahun-tahun sebelum pandemi bisa mencapai 7.000 hingga 10.000 orang per hari,” kata Bagus.

Menurut Bagus, turunnya jumlah pengunjung Pikatan Water Park dalam padusan tahun ini, salah satunya adalah banyaknya kompetitor wahana wisata air di Kabupaten Temanggung. “Saat ini banyak wisata air baik milik desa atau perorangan bermunculan,seperti di Liyangan, Bansari, Jumo dan beberapa tempat lainnya,” ujarnya.

Kemungkinan faktor lainnya adalah kondisi perekonomian di tengah masyarakat yang belum pulih akibat pandemi Covid-19. Meski begitu, masyarakat tetep melaksanakan padusan untuk menyambut Ramadan.

Baca juga: 4 Tradisi Masyarakat Jawa Sebelum Masuk Bulan Ramadan

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.


https://travel.tempo.co/read/1577732/sambut-ramadan-masyarakat-temanggung-gelar-tradisi-padusan

Tokoh

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi