Reisa: Jangan Pertaruhkan Kesehatan, Tingkatkan Penerapan Prokes

17 June 2021, 4:41

KBRN, Jakarta: Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Reisa Broto Asmoro mengatakan, saat ini rumah sakit penuh pasien COVID-19. Varian baru virus COVID-19 juga makin banyak beredar. 

Menurutnya, dampak COVID-19 bisa berbeda-beda terhadap tiap orang. Ada yang tidak  bergejala, namun beberapa pasien menjadi kritis dan fatal. 

“Jangan ambil risiko, lindungi diri untuk lindungi keluarga dan orang terdekat kita. Jangan pertaruhkan kesehatan diri dan keluarga hanya karena lalai menerapkan protokol kesehatan,” tegas Reisa, Rabu (16/6/2021). 

Dia menambahkan, Bed Occupancy Rate yang tinggi bukan saja menandakan banyak daerah kembali ke zona merah atau risiko tinggi. Juga membuat penderita penyakit kritis lainnya, seperti jantung, sulit mendapatkan tempat perawatan yang layak. Susah mendapatkan perhatian lebih dari dokter spesialis yang merawatnya, dan membuat keluarga mereka khawatir karena berada di rumah sakit yang penuh pasien COVID-19. 

Menurut panduan menekan risiko, lanjut Reisa, dikenal istilah ‘gas dan rem’. Peningkatan yang terus menerus seperti saat ini akan mungkin mengembalikan ke situasi pengetatan kegiatan masyarakat. 

Jumlah absensi kantor yang dikurangi. Jam buka tempat usaha dikurangi dan beberapa kegiatan sosial budaya kembali diatur dengan ketat seperti dikurangi pesertanya. 

“Dan rencana sekolah tatap muka kemungkinan akan tertunda di wilayah zona merah,” kata Reisa. 

Dia mengatakan, ada beberapa cara untuk berkontribusi menekan laju penularan dan mengembalikan situasi kota dan kabupaten ke risiko rendah atau zona hijau. 

Menurutnya, bagi mereka yang merasa kontak erat dengan pasien positif, segera laporkan diri ke puskesmas terdekat. Berani di-tes dan apabila positif, informasikan secara terus terang tentang siapa saja yang telah kontak erat dengannya selama beberapa hari ke belakang. Pengendalian penularan saat ini bisa ditangani dengan 3T, tes, telusur, tindak lanjut dan terapinya atau dikenal juga dengan tes, lacak, dan isolasi. 

Dia kembali menegaskan, isolasi mandiri bukan tanpa sepengetahuan orang lain. Lapor ke puskesmas dan tetap konsultasi dengan dokter. Konsultasi rutin dengan dokter dapat segera membantu pasien mendapatkan pertolongan dan perawatan. 

“Terlambat dirawat dapat berisiko bagi keselamatan nyawa. Puskesmas dan dokter dapat membantu memberikan informasi ketersediaan ruang rawat inap di rumah sakit atau memberikan rujukan ke karantina terpusat yang dibiayai pemerintah,” tandasnya.


https://rri.co.id/nasional/peristiwa/1081673/reisa-jangan-pertaruhkan-kesehatan-tingkatkan-penerapan-prokes?utm_source=news_main&utm_medium=internal_link&utm_campaign=General%20Campaign

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Agama

Brand

Club Sports

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi