Politik Kehadiran

16 September 2021, 12:03

Politik Kehadiran

TIMESINDONESIA, MALANG – Judul tulisan ini diambil dari status Facebook teman saya, Sahabat Cak Udin. Status yang dikhususkan untuk menggambarkan aktifitas sosial yang dilakukan oleh Sahabat Cak Udin di Malang Raya. Cak Udin adalah panggilan akrab Pak Hasanuddin Wahid, Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang saat ini menjadi anggota DPR RI sampai periode 2024. Beliau melanggeng ke Senayan melalui perolehan suara yang didapatnya Dapil V Malang Raya.

Lumrah kita ketahui seringkali politisi gencar melakukan giat sosial ketika mendekati pencoblosan atau mendekati masa pemilihan legislatif atau pilkada. Saking lumrahnya sampai-sampai ada guyonan seperti ini, “bedanya pileg dan pil KB adalah kalau pileg setelah jadi lupa, sementara kalau pil KB jadi kalau lupa.” Tidak demikian yang dilakukan oleh Sahabat Cat Udin. Cak Udin sebagai politisi muda, yang memiliki idealisme tinggi, dan ingin membawa perubahan mendasar dalam berpolitik senantiasa mengajarkan kepada konstituennya dan relawannya untuk melakukan aktifitas politik sepanjang waktu. Hadirnya Cak Udin ditengah-tengah masyarakat harus memberikan dampak besar terhadap kesejahteraan masyarakat, kemandirian masyarakat. Hanya dengan kemandirian dan kesejahteraan maka politik kebangsaan itu akan berhasil diwujudkan. Sehingga bagi Cak Udin aktifitas politik harus berjalan sepanjang waktu. Kemanfaatan harus diterus dihadirkan kepada masyarakat. Inilah kemudian Sahabat Cak Udin menulis status “Politik Kehadiran”.

Politik kehadiran adalah aktifitas politik yang tidak hanya untuk kepentingan politisi semata. Tetapi politisi hadir dan turut serta dalam menyelesaikan masalah masyarakat. Politisi hadir sebagai sumber mata air yang memberikan kepuasan dalam dahaga, menghibur dikala sedih. Intinya politisi harus hadir dan memberikan kemanfaatan. Konstituen bukan hanya disapa ketika mereka dibutuhkan, tetapi politisi hadir baik mereka butuh ataupun tidak. Hemat saya ini merupakan gerakan politik yang dahsat. Pendidikan politik ala Cak Udin ini hadir dengan nuansa dan gerakan baru, politik kehadiran.

Misalnya, gerakan Jum’at Berkah, bantuan makanan untuk warga isoman, pinjaman tabung udara untuk warga terpapar Covid-19, sampai pada korban bencana alama.

Gerakan dan kegiatan yang bernuasan sosial ini bisa jadi sepele dan tidak memberikan dampak apa-apa kepada masyarakat. Namun jika kita renungkan mendalam, kegiatan ini sungguh merupakan kegiatan super dahsat. Bukan sekedar untuk kepentingan konstituen dan meraup suara, tapi kepedulian, sapaan, hadirnya para politisi ditengah-tengah masyarakat yang membutuhkan itu semua merupakan giat politik yang sesungguhnya. Meskipun saya pribadi awam dari dunia perpolitikan, jika mereka memberikan dampak kemanfaatan kepada masyarakat saya pikir itulah giat politik yang sesungguhnya. Bukankah hadirnya para politisi untuk memajukan NKRI ini harus memberikan dampak sosial dan kesejahteraan kepada masyarakat? Jika iya maka narasi Politik Kehadiran harus menjadi habitus dari dunia perpolitikan. Jika saja para anggota dewan yang ada, pejabat publik, para politisi berbondong-bondong melakukan giat serupa bukankan masyarakat akan mengenang mereka dengan baik, masyarakat akan merasa mereka hadir dalam kehidupannya, mereka merasa diajak untuk turut memikirkan bangsa, karena pendidikan politik sejatinya juga harus dilakukan bersama-sama.

Kemampuan untuk merespon masyarakat akan menciptakan rasa tanggung jawab dan tanggung jawan akan menciptakan kualitas hidup yang lebih baik. Selamat kepada Cak Udin, Sahabat Cak Udin yang telah mencoba merawat masyarakat dengan giat-giat sederhana tapi memiliki dampak yang super dahsat ini.

*) Oleh: Muhammad Yunus

– Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Pascasarjana Universitas Islam Malang

– Kepala BAKAK Unisma

– Anggota Pengurus Wilayah LP Ma’arif Nahdlatul Ulama Jawa Timur

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia .


Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi