Nasaruddin Umar: Bersihkan Niat dan Bakar Semua Dosa Kita di Bulan Ramadan

3 April 2022, 14:48

Apa yang membuat Bapak tertarik membahas isu-isu soal kesetaraan gender dan menuliskan buku Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Alquran?

Ya, kita harus memberikan keberpihakan kepada mereka mereka yang terzolimi, tertindas. Dari pengamatan kami, perempuan sekarang ini mengalami ketidakadilan ya. Kenapa? Karena kalau kita bicara tentang agama, bicara tentang ekonomi, bicara antropologi, sosiologi, apa pun tema-tema pembicaraan kita, perempuan itu selalu berada di dalam posisi yang the second sex, begitu ya.

Padahal kok, aneh sama-sama manusia, laki laki dan perempuan. Sama-sama diciptakan dari unsur yang sama. Ya kan? Kenapa harus ada menjadi the second sex dan ada yang the first sex, ya kan?

Gender itu kan bahasa baru ya, dulu itu namanya womanisme. Womanisme itu suatu kecenderungan untuk memberikan pembelaan kepada perempuan. Tapi baru belakangan muncul gender, gender equality.

Di mana Bapak melakukan penelitian?

Jadi memang berdarah-darah ketika membuat buku itu, karena kami harus melakukan studi kepustakaan di berbagai negara, bahkan studi lapangan. Saya masih ingat itu setahun saya di Kanada, setahun di Belanda, kemudian juga setahun lebih di Amerika untuk menulis buku ini. Bahkan pernah meneliti di Timur Tengah, ke negara-negara Islam, juga sampai ke peradaban paling timur di Cina dan Jepang.

Dari penelitian itu saya yakin bahwa Tuhan itu lebih menonjol sebagai The Mother of God daripada The Father of God. Kenapa? Kita lihat Asmaul Husna, sifat-sifat Allah itu kan, 99 sifat itu 80% sifat feminin. Hanya 20 persen sifat maskulin. Itu pun jarang terulang dalam Quran. Halaman demi halaman Quran itu penuh dengan sifat-sifat feminin Allah.

Bayangkan ‘Muttaqimah’ Pendendam, ‘Al Mutakabbir’ Maha Sombong, itu sifatnya Allah, tapi hanya satu kali disebutkan dalam Quran. Bandingkan dalam ‘Ar-Rahim’, Maha Penyayang. ‘Ar-Rahman, Ar-Rahim itu terulang 114 kali, Ar-Rahman 57 kali.

Jadi ini artinya apa? Intensitas Allah memperkenalkan diri-Nya lebih menonjol sebagai perempuan. Itu sangat kelihatan. Tapi anehnya, Tuhannya lebih kepada feminin, kitab sucinya lebih kepada feminin, dan nabinya pun juga lebih kepada feminin, umatnya kok maskulin, bahkan over maskulin, sampai teroris segala macamlah.

Kenapa bisa terjadi?

Saya jadi penasaran pada waktu itu, apa yang menyebabkan kok perempuan ini tersudutkan, padahal Tuhan-nya sedemikian akrab dengan perempuan, tapi seperti enggak mendapatkan tempat? Bahkan teologi misoginis yang di Eropa itu perempuan harus dibenci karena perempuan itu dianggap separuh iblis. Laki-laki harus dimuliakan karena laki-laki itu separuh Tuhan. Padahal dalam Quran itu equal, sangat paralel.

Nah, jadi lain penafsiran agama, lain kitab sucinya itu sendiri. Jadi lain terjemahan, lain kitab sucinya. Jadi ini perlu kita clear-kan. Jadi, apa yang berkembang di dalam budaya Timur Tengah itu bukan kata Quran, tapi itu interpretasi kulturalnya mereka terhadap Quran seperti itu. Nah, kita kan juga punya diri kita sendiri, ya kan? Jadi kita juga tentu perlu dong, ada culture right kita, ada kultur budaya kita itu apa? Kultur lokal kita juga berhak untuk menafsirkan Quran.

Misalnya, di Timur Tengah itu kan ada yang pakai cadar, ada pakai jilbab. Tapi kita di Indonesia ya cukup pakai mukena kok, karena yang diperintahkan Quran itu kan menutup aurat. Aurat itu, muka perempuan itu kan tidak termasuk aurat, kenapa harus ditutupin? Tapi kalau ada yang mau menutupi itu, apa namanya itu, cadar, itu monggo. Itu hak asasi kok. Itu choice ya, pilihan ya. Tapi jangan sampai nanti ada anggapan, wah itu Anda belum terlalu Islami karena belum pakai cadar, no.

Kalau seandainya cadar itu penting banget, bahkan wajib, misalnya, kenapa membatalkan haji? Kan tidak sah hajinya kalau orang pakai cadar tuh. Ini harus kelihatan pada saat orang itu wukuf di Arafah. Laki-laki enggak boleh pakai atap apa-apa, peci segala macem, itu harus pakaiannya tidak berjahit.

Nah, coba bayangkan kalau pakaian itu, cadar itu, memang itu yang paling terhormat dalam Islam, kenapa membatalkan haji ya? Jadi, pakai mukena itu sudah, sudah Islami. Nah, tidak mesti harus menyerupakan diri dengan orang Arab for the best muslim ya kan. Kita di Indonesia pakai sarung ya, Nabi pakai gamis, ya pakaian adatnya di sana. Tapi sarung dengan gamis sama-sama penutup aurat, ya kan.

 


https://www.liputan6.com/news/read/4928290/nasaruddin-umar-bersihkan-niat-dan-bakar-semua-dosa-kita-di-bulan-ramadan

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi