Menengok Menara NU Warisan KH Umar Tumbu Pacitan

3 November 2021, 18:02

Menengok Menara NU Warisan KH Umar Tumbu Pacitan

TIMESINDONESIA, PACITANKH Umar Tumbu . Ulama kharismatik pendakwah tersohor dengan nama asli Umar Sahid Pacitan, Jawa Timur itu memiliki warisan penting berupa mercusuar atau menara NU yang ternyata layak untuk dikunjungi wisatawan religi.

Seperti yang diungkapkan salah satu santri KH Umar Tumbu, Nur Salim bahwa keberadaan menara NU ini sangat lekat dengan tokoh penyebar syiar Islam ala NU di Pacitan, KH Umar Syahid atau Mbah Umar Tumbu.

“Ya, pasti masyarakat sudah tahu tentang perjalanan KH Umar Tumbu. Sejak wafat pada 4 Januari 2017 silam, ia juga meninggalkan warisan semangat untuk menjaga persatuan berupa sebuah menara NU,” katanya, Rabu (3/11/2021).

Nur Salim yang merupakan santri KH Umar Tumbu mengkisahkan bangunan menara NU itu dibangun.

Nur Salim menambahkan, menara megah setinggi 17 meter yang didominasi warna hijau tua ini dirancang dan dibangun oleh KH Umar Tumbu sendiri. Dari dasar hingga puncaknya tertera logo NU serta tak lupa bendera Merah Putih. Angka 17 sendiri melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia.

“Nah, menara ini juga dirancang oleh KH Umar Tumbu sendiri. Bangunan tersebut juga terdapat logo NU dan angka 17 yang melambangkan kemerdekaan Indonesia,” imbuhnya.

Lebih lanjut pria yang juga Ketua PAC GP Ansor Donorojo itu menjelaskan makna filosofis menara NU yang selesai dibangun pada 15 Agustus 2015 lalu dan diresmikan oleh Rais JATMAN Habib Luthfi bin Yahya.

“Yang saya dengar dari KH Umar Tumbu waktu masih hidup, mercusuar ini memiliki makna filosofis kokohnya ideologi NU yang seperti karang. Jadi kalau ada kapal yang menabrak karang tersebut pasti akan pecah, tenggelam bahkan bisa hancur,” jelas Nur Salim saat diwawancarai TIMES Indonesia.

Selain itu, dirinya menilai mercusuar yang berada di Desa Jajar, Kecamatan Donorojo ini sebagai pertanda eksistensi ormas Islam NU di tengah modernisasi dan tantangan zaman.

“KH Umar Tumbu memang sedang mengabarkan kepada dunia bahwa keberadaan NU masih ada dan akan terus lestari. Mengingat peran penting para Kiai dalam menyebarkan Islam bahkan merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajahan bangsa lain,” ujarnya.

Nur Salim juga menyatakan, kecintaan KH Umar tumbu kepada NU dan umat Islam bisa diwujudkan dengan banyaknya pengorbanan semasa hidupnya yang mengabdi melayani dengan penuh keikhlasan.

Makam KH Umar Tumbu yang berada di belakang komplek asrama Ponpes Nurrohman, Donorojo Pacitan.

“Saya yakin, KH Umar Tumbu adalah pejuang sejati yang dikenal sebagai kiai pelayan umat, dermawan, lemah lembut. Saat masih muda berdakwah keliling dengan menjual tumbu atau wadah yang terbuat dari anyaman bambu dengan berjalan kaki. Pesan yang masih saya ingat adalah bagaimana kita harus menjaga persatuan dan kerukunan antar umat,” ucapnya.

Perlu diketahui, KH Umar Tumbu atau yang dikenal Mbah Umar wafat dalam usia 114 tahun. Pada masa remajanya, ia menjadi murid KH Dimyathi Abdullah di Pesantren Tremas Arjosari Pacitan. Menara NU warisan Mbah Umar kini menjadi wisata religi selain makamnya yang terletak di belakang asrama Ponpes Nurrohman yang ia asuh.

“Apalagi saat bulan Ramadhan ramai dikunjungi peziarah dari luar Pacitan,” pungkas Nur Salim terkait menara NU warisan KH Umar Tumbu . (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia .


Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi