Kuasa Hukum Rizieq Shihab Minta Pejabat yang Buat Onar Juga Dipidana

18 June 2021, 0:48

Liputan6.com, Jakarta – Tim Kuasa Hukum Rizieq Shihab, meminta kepada jaksa penuntut umum agar turut memproses pidana para pejabat negara yang kerap membuat kegaduhan di masyarakat, akibat pernyataan yang dilontarkan mereka membuat keonaran dan kegaduhan.

Hal itu menyusul alasan dari jaksa penuntut umum (JPU) memakai pasal 14 ayat (1) UU 1/46 yang dengan sengaja menyebarkan berita bohong yang mengakibatkan keonaran di kalangan masyarakat.

Dari pernyataan itulah, tim kuasa hukum dalam dupliknya simpulkan seharusnya jaksa turut mempidanakan pejabat yang sering membuat pernyataan membuat gaduh di tengah masyarakat.

“Logika Penuntut Umum sendiri yang menganggap definisi keonaran sekedar keresahan dan pro kontra, maka harusnya penuntut umum menyeret mereka seperti menteri atau pejabat setingkat menteri yang justru dalam kondisi ia menjabat posisi menteri negara atau pejabat setingkat menteri sering membuat kegaduhan dan keresahan akibat pernyataan bohong dan tidak bertanggung jawab,” kata salah satu pengacara HRS saat membacakan duplik di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (17/6/2021).

Lantas dalam dupliknya, Tim Kuasa Hukum menyinggung contoh-contoh pernyataan dari para pejabat yang dinilai membuat kegaduhan. Seperti pernyataan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly yang menyinggung daerah Tanjung Priok yang kerap timbulkan penyakit sosial.

“Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly yang mengatakan ‘Yang membuat itu menjadi besar adalah penyakit sosial yang ada. Itu sebabnya kejahatan lebih banyak terjadi di daerah-daerah miskin. Sebelum area (daerah kumuh), bukan di Menteng. Anak-anak Menteng tidak, tapi coba pergi ke Tanjung Priok. Di situ ada kriminal, lahir dari kemiskinan,’ kata kuasa hukum.

Atas pernyataan tersebut, tim kuasa hukum menganggap jika apa yang disebut Yasona itu membuat resah warga Tanjung Priok sakit hati dan membantah pernyataan Yasonna Laoly tersebut sehingga membuat gaduh se-Tanjung Priok. Mereka pun menyertakan berita yang menunjukkan pernyataan Yasonna itu.

Contoh kedua, terkait Mantan Menteri Kesehatan, Terawan saat masih menjabat sebagai menteri sering membuat pernyataan-pernyataan kontroversial dengan seperti menyepelekan penyebaran virus ini pada saat awal pandemi Covid-19.

“Berbagai pernyataan seperti menolak dugaan ahli dari Harvard yang menduga Covid-19 sudah masuk ke Indonesia, mengatakan Covid-19 bisa sembuh dengan doa, mengatakan Covid-19 penyakit yang bisa sembuh sendiri,” ujarnya.

“Akan tetapi sikap Terawan yang menyepelekan penyebaran Covid-19 itu berujung dengan hadiah dari Presiden Jokowi yang menetapkan status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat sebagai Bencana Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 dan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020. Atas pernyataan-pernyataan Terawan itu pun membuat kegaduhan seantero Nasional,” tambahnya.

Kemudian, lanjut kuasa hukum, pernyataan keempat yang dilontarkan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Yudian Wahyudi yang menyatakan bahwa ‘Jadi kalau kita jujur, musuh terbesar Pancasila itu ya agama’ dan juga mengatakan ‘Saya mengimbau kepada orang Islam, mulai bergeser dari kitab suci ke konstitusi kalau dalam berbangsa dan bernegara’.

“Sontak membuat gempar seantero Nasional. Sampai-sampai ormas Islam besar seperti NU, Muhammadiyah, PERSIS sampai MUI sebagai wadah bersama ormas-ormas Islam seluruhnya mengkritik keras pernyataan Yudian Wahyudi yang kemudian membuat kegaduhan luar biasa di tengah masyarakat, bahkan timbul keresahan ditengah masyarakat yang khawatir akan kebangkitan paham anti agama di Indonesia,” beber kuasa hukum.

Terakhir, pernyataan Jaksa Agung ST Burhanuddin Sanitiar yang kala rapat bersama Komisi III DPR RI pada 16 Januari 2020 tahun lalu, menyatakan “Peristiwa Semanggi I, Semanggi II, telah ada hasil rapat paripurna DPR RI yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut bukan merupakan pelanggaran HAM berat”.

“Pernyataan itu menimbulkan kegaduhan dan keresahan ditengah masyarakat, terutama sekali keluarga korban pelanggaran HAM berat dari Peristiwa Semanggi I dan Semanggi II. Pernyataan Jaksa Agung RI tersebut kemudian digugat oleh keluarga Korban peristiwa Semanggi I dan II di PTUN, yang kemudian PTUN memutuskan dengan Nomor Putusan: 99/G/ 2020/PTUN-JKT, bahwa apa yang disebutkan oleh Jaksa Agung RI terkait Perisitiwa Semanggi I dan II, oleh Majelis Hakim PTUN yang mengadili perkara itu dinyatakan sebagai tindakan melawan hukum,” katanya.


https://www.liputan6.com/news/read/4584860/kuasa-hukum-rizieq-shihab-minta-pejabat-yang-buat-onar-juga-dipidana

Partai

Institusi

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Provinsi

Negara

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Statement

Fasum

Transportasi