Kisah Haru Perjuangan Nyoman Rai Srimben Besarkan Soekarno

8 June 2021, 8:47

https: img.okezone.com content 2021 06 07 337 2421539 kisah-haru-perjuangan-nyoman-rai-srimben-besarkan-soekarno-53LcTbh3pk.jpg

JAKARTA – Presiden Pertama Indonesia, Soekarno lahir di Surabaya, 1 Juni 1901, dari pasangan Raden Soekemi yang merupakan seorang guru sekolah rakyat dengan Ida Ayu Nyoman Rai, seorang keturunan bangsawan Bali.

(Baca juga: Diplomasi Sebatang Rokok Ala Bung Karno dengan Pemimpin Negara Adidaya)

Ida Ayu Nyoman Rai, sang ibunda Soekarno, lahir sekitar tahun 1881 sebagai anak kedua dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Sewaktu kecil orang tuanya memberi nama panggilan Srimben, yang mengandung arti limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan dari Bhatari Sri.

Semasa remaja di Banjar Bale Agung, Nyoman Rai Srimben bersahabat dengan Made Lastri yang kemudian mengenalkannya dengan seorang guru Jawa pendatang bernama R Soekeni.

(Baca juga: Bung Karno: Harto, Jane Aku Iki Arep Kok Apa’Ke?)

Tidak mudah, R Soekeni akhirnya berhasil membawa lari Nyoman Rai Srimben untuk bersatu menempuh hidup baru dengan perjuangan yang hampir melewati pertumpahan darah. Mereka resmi menikah pada tanggal 15 Juni 1887. Demikian dikutip dari “Ibu Indonesia Dalam Kenangan” karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, dkk, seperti dilansir dari Perpusnas.

Putri pertamanya, Raden Soekarmini (kelak dikenal sebagai Bu Wardoyo) lahir pada tanggal 29 Maret 1898 dan kemudian berpindah ke Surabaya.

Di Surabaya inilah pada tanggal 6 Juni 1901 Nyoman Rai Srimben melahirkan Putera Sang Fajar atau Soekarno di sebuah rumah kampung sederhana di sekitar Makam Belanda kampoug Pandean III Surabaya.

Nyoman Rai Srimben mendidik kedua anaknya dengan bekal spiritual Hindu seperti yang pernah dipelajarinya. Enam bulan kemudian Nyoman Rai Srimben harus mengikuti suaminya untuk pindah ke kota kecil kecamatan Ploso (Jombang) dan di sinilah ia mengalami penderitaan yang luar biasa karena kedua anaknya sering sakit-sakitan.

Karena faktor kesehatan pula, Nyoman Rai Srimben sempat berpisah dengan Soekarno untuk dirawat dan diasuh oleh mertuanya di Tulung Agung.

Namun akhirnya Soekarno dapat diasuh kembali ketika ia harus mengikuti suaminya pindah ke Mojokerto. Di Mojokerto pula putri sulungnya menikah dan kemudian tinggal bersama suaminya.

Nyoman Rai Srimben sangat bersedih karena harus berpisah dengan anaknya, sebagai pelipur lara ia memfokuskan diri dengan melimpahkan kasih sayangnya kepada Soekarno.

Persoalan muncul ketika Srimben dihadapkan pada kepindahan suaminya ke Blitar sekaligus menghadapi kenyataan Soekarno untuk sekolah di Surabaya. Akhirnya ia mengikuti kepindahan suaminya ke Blitar dan Soekarno dititipkan di rumah HOS Cokroaminoto untuk meneruskan sekolah di Surabaya.

Di Blitar, Nyoman Rai Srimben tinggal di asrama sekolah yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Umum I Blitar dan dipercaya untuk mengelola asrama sekaligus mengurus makan para pelajar yang tinggal di asrama tersebut.

Nyoman Rai Srimben menjadi pelopor perkawinan campur antar suku, sehingga mungkin memberikan inspirasi kepada Soekarno untuk menyatukan Nusantara menjadi Republik Indonesia.


https://nasional.okezone.com/read/2021/06/07/337/2421539/kisah-haru-perjuangan-nyoman-rai-srimben-besarkan-soekarno?page=1

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi