Keamanan Siber Indonesia Masih Lemah, Ini Hal yang Perlu Dievaluasi

17 September 2021, 0:39

Ilustrasi Hacker (Foto: Istimewa)

Kamis, 16/09/2021 21:30 WIB

law-justice.co – Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mengatakan bila teknologi keamanan siber yang dimiliki oleh Indonesia saat ini masih lemah

Lemahnya keamanan siber tersebut menyebabkan mudahnya data milik Kementerian hingga BIN bisa dibobol beberapa waktu lalu sehingga perlu adanya evaluasi.

TB mengatakan tugas melindungi data tersebut ada di dua tempat. Pertama di Kementerian/Lembaga masing-masing, kemudian yang kedua di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

“Tapi harus diakui bahwa masalah teknologi dan hitech yang dipakai keduanya masih belum memenuhi persyaratan pengamanan siber secara Internasional, nah ini butuh SDM dan anggaran,” kata TB kepada wartawan, Kamis (16/09/2021).

Politisi PDIP itu menuturkan bila anggaran yang dibutuhkan untuk membeli alat-alat IT pengaman siber itu butuh anggaran yang sangat besar.

BSSN sendiri, kata TB sudah mengajukan anggaran besar untuk pembelian alat pengamaman siber yakni sebesar Rp3,6 Triliun namun tak bisa dipenuhi semuanya.

“Yang bisa dipenuhi cuma Rp500 miliar saja, jadi sangat jauh lah dari yang dibutuhkan,” tuturnya.

Lebih lanjut, TB mengungkapkan jika Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia untuk pengelolaan pengaman siber juga masih di bawah rata-rata. Sehingga, sangat mudah sekali untuk dibobol oleh pihak tak bertanggungjawab.

“Kita jujur saja, SDM Indonesia masih terlambat untuk menguasai alat-alat IT yang memiliki teknologi yang tinggi, ya jadinya seperti ini,” ungkapnya.

“Nah makannya kita perlu harus tau kelemahan kita agar segera dibenahi dan tak menjadi korban kejahatan teknologi lagi,” demikian sambungnya.

Sebelumnya, Pakar Keamanan Siber Pratama Persadha bersama timnya mengaku telah melakukan profiling terhadap pelaku serangan bernama Mustang Panda. Mustang Panda adalah kelompok hacker yang diduga asal Tiongkok dan menyusup pada sistem jaringan internal 10 kementerian dan lembaga negara Indonesia, salah satunya BIN.

“Mustang Panda adalah kelompok hacker yang sebagian besar anggota dari Tiongkok di mana grup ini membuat private ransomware yang dinamakan Thanos,” jelas Pratama Persadha.

Menurutnya, Ransomware ini dapat mengakses data dan credential login pada PC yang kemudian mengirimkannya ke CNC (command and control). Bahkan hacker bisa mengontrol sistem operasi target.

Sebagai informasi, dugaan ini berdasarkan laporan dari Insikt Group, divisi riset ancaman dari Record Future. Dikutip dari situs The Record, Minggu (12/9), aksi peretasan ini diperkirakan dilakukan oleh Mustang Panda.

Untuk diketahui, Mustang Panda merupakan kelompok peretas asal Tiongkok yang dikenal kerap melakukan aksi mata-mata siber dan memiliki target operasi di wilayah Asia Tenggara. Para peneliti Insikt Group mengatakan mereka menemukan aksi penyusupan ini pertama kali pada April 2021.

Sementara itu, Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara, Kaspersky mengatakan, berdasarkan penargetan organisasi pemerintah di Asia dan Afrika, pihaknya menilai bahwa salah satu motivasi utama Mustang Panda adalah mengumpulkan data intelijen geo-politik dan ekonomi.


https://www.law-justice.co/artikel/116230/keamanan-siber-indonesia-masih-lemah-ini-hal-yang-perlu-dievaluasi/

Partai

Institusi

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi