Jokowi: Ekonomi Indonesia Menguat Signifikan Menjadi 5,44% di Triwulan II 2022

16 August 2022, 16:54

Joko Widodo (Jokowi) Presiden mengatakan, Indonesia mendapatkan apresiasi sebagai salah satu negara yang berhasil mengatasi pandemi dan memulihkan ekonominya dengan cepat.

Menurut Presiden, pemulihan ekonomi Indonesia dalam tren yang terus menguat, tumbuh 5,01% di Triwulan I dan menguat
signifikan menjadi 5,44% di Triwulan II 2022.

Pernyataan Jokowi disampaikan dalam pidato Rancangan Undang-Undang tentang APBN tahun anggaran 2023 beserta nota keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (16/8/2022).

“Sektor-sektor strategis seperti manufaktur dan perdagangan tumbuh secara ekspansif, didukung oleh konsumsi masyarakat yang mulai pulih serta solidnya kinerja ekspor. Neraca perdagangan telah mengalami surplus selama 27 bulan berturut-turut,” kata Presiden.

Dia menjelaskan, sektor manufaktur yang mengalami pemulihan, kuat menopang tingginya kinerja ekspor nasional.

Hal ini mencerminkan keberhasilan strategi hilirisasi industri yang dijalankan sejak 2015. Tingginya kinerja ekspor juga didukung oleh sektor pertambangan seiring meningkatnya harga komoditas global.

“Sektor transportasi dan akomodasi yang paling terdampak pandemi juga mulai mengalami pemulihan. Masing-masing tumbuh 21,3% dan 9,8% pada Triwulan II 2022,” ujar Jokowi.

Presiden menerangkan, pada Juli 2022, Indikator Purchasing Managers Index (PMI) meningkat menjadi 51,3%, mencerminkan arah pemulihan yang semakin kuat pada Semester II.

Laju inflasi Indonesia masih jauh lebih moderat dibandingkan dengan negara lain. Per Juli, tingkat inflasi Indonesia sebesar 4,9% (YoY). Hal itu ditopang oleh peran APBN dalam menjaga stabilitas harga energi dan pangan. Konsekuensinya, anggaran subsidi dan kompensasi energi pada tahun 2022 meningkat menjadi Rp502 triliun.

“Ke depan, kita harus terus waspada. Risiko gejolak ekonomi global masih tinggi. Perlambatan ekonomi dunia tetap berpotensi memengaruhi laju pertumbuhan ekonomi domestik dalam jangka pendek,” jelas Presiden.

Menurut Jokowi, konflik geopolitik dan perang di Ukraina telah menyebabkan eskalasi gangguan sisi suplai yang memicu lonjakan harga-harga komoditas global dan mendorong kenaikan laju inflasi di banyak negara, tidak terkecuali Indonesia.

Bank Sentral di banyak negara melakukan pengetatan kebijakan moneter secara agresif. Pengetatan telah menyebabkan guncangan pada pasar keuangan di banyak negara berkembang.

“Konsekuensinya, nilai tukar mata uang sebagian besar negara berkembang mengalami pelemahan,” tegasnya.

Dengan berbagai tekanan tersebut, lanjut Jokowi, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global melambat signifikan dari 6,1% di tahun 2021 menjadi 3,2% di tahun 2022 dan 2,9% di tahun 2023.(faz/ipg)

Tokoh

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Fasum

Transportasi