IPJT RSSA Malang Sukses Lalukan Bedah Jantung Terintegrasi Pertama Pada Anak

3 November 2021, 2:01

IPJT RSSA Malang Sukses Lalukan Bedah Jantung Terintegrasi Pertama Pada Anak

TIMESINDONESIA, MALANG – Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu (IPJT) milik Rumah Sakit Saiful Anwar atau RSSA Malang sukses melakukan operasi bedah jantung pertama yang terintegrasi kepada anak berusia 4 tahun 10 bulan.

Proses operasi bedah jantung tersebut pun melibatkan berbagai dokter spesialis yang dimiliki oleh RSSA Malang.

Dokter spesialis tersebut diantaranya, yakni spesialis jantung, paru, anestesi, ahli bedah hingga pembuluh darah.

Anak berusia 4 tahun 10 bulan yang mendapatkan tindakan operasi bedah jantung tersebut, uakni Brian Atala Hafis asal Kabupaten Blitar yang mulai melakukan bedah sejak 28 Oktober 2021 lalu.

Spesialis Bedah Jantung IPJT RSSA Malang, dr Artono Isharanto mengatakan, operasi bedah jantung bawaan ini merupakan kasus pertama yang dilakukan secara terstruktur dan terintegrasi.

“Ini kasus operasi bedah jantung bawaan ketiga kami. Tapi, secara by desain (terstruktur) yang sudah disiapkan di rumah sakit, ini yang pertama,” ujar Artono, Selasa (2/11/2021).

Untuk tahapan yang dilakukan secara terintegrasi, lanjut Artono, mulai dari perencanaan seperti diagnosis penyakit hingga tindakan operasi pada pasien.

Spesialis Bedah Jantung IPJT RSSA Malang, dr Artono Isharanto saat menjelaskan proses bedah jantung terintegrasi. (Foto: Rizky Kurniawan Pratama/TIMES Indonesia)

“Jadi tahapannya mulai dari diagnosis, setelah itu kami rapatkan dengan melibatkan banyak spesialis, tindakan apa yang diambil. Jika bedah, maka kami tentukan tanggal operasinya,” ungkapnya.

Selanjutnya, Konsultan Jantung Anak, IPJT RSSA Malang, dr Dyahris Koentartiwi menjelaskan bahwa pasien anak tersebut dilakukan tindakan bedah pada bagian serambi jantung yang mengalami kebocoran.

“Pada kasus ini tindakan operasi diambil karena melihat lubang bocor serambi jantungnya yang besar. Kami observasi juga anaknya sudah memenuhi syarat untuk diambil tindakan tersebut. Anak ini pas usianya empat tahun dengan berat baran 15 kilogram,” bebernya.

Dyahris menyebutkan untuk proses pelaksanaan operasi bedah jantung tersebut hingga pemulihan dilakukan selama 6 hari. Hal itu pun dirasa sukses karena memang secara normal untuk operasi bedah jantung yang dilakukan secara teratruktur memang sekitar 5 sampai 6 hari hingga masa pemulihan.

“Normalnya memang segitu. Kalau tidak ada komplikasi. Cuma ini kasus pertama baru dikerjakan dengan pilihan perlu disiapkan sampai street worker sampai pulang (pemulihan),” tuturnya.

Sementara itu, orang tua pasien, Rani Puspitasari mengungkapkan bahwa pasca operasi, kini dirinya sudah merasa lega karena kondisi anaknya sudah tak lagi mengalami gangguan kesehatan apapun.

Apalagi, ia pun sekeluarga juga bersyukur bahwa seluruh biaya operasi untuk anaknya telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

“Sempat saya cemas saat masuk meja operasi. Karena anak saya kan masih kecil ya. Ternyata kondisinya saat ini sudah stabil. Saya lega, karena lubang jantungnya sudah ketutup,” pungkasnya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia .


Tokoh

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi