Ingat Kasus Sate Sianida? Kasusnya Bakal Disidangkan dan Komisi Yudisial Diminta Mengawasi

16 September 2021, 14:30

Ingat Kasus Sate Sianida? Kasusnya Bakal Disidangkan dan Komisi Yudisial Diminta Mengawasi

YOGYA, KRJOGJA.com – Jogja Police Watch (JPW), Rabu (15/9/2021) secara resmi mengirimkan surat permohonan yang ditujukan kepada Ketua Komisi Yudisial (KY) dengan tembusan Ketua Pengadilan Negeri Bantul, DIY. Isi surat tersebut perihal permohonan pemantauan persidangan kasus paket sate sianida dengan tersangka/terdakwa Nani Aprilliani Nurjaman.

Sidang perdana akan digelar pada Kamis (16/9/2021) di Pengadilan Negeri (PN) Bantul dengan agenda sidang pembacaan surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Kadiv Humas JPW, Baharuddin Kamba mengatakan setidaknya ada tiga alasan urgensi mengapa KY Republik Indonesia perlu melakukan pemantauan terkait persidangan perkara sate beracun ini.

“Pertama, kasus ini menjadi perhatian publik DIY karena mengakibatkan seorang anak dari pengemudi ojek online bernama Naba Faiz Prasetya meninggal dunia. Kita tahu dia korban salah sasaran karena diduga target sate beracun tersebut adalah seorang polisi bernama Tomi Astanto,” ungkap Kamba dalam pernyataan tertulis.

JPW juga memandang, perlunya KY turun langsung memantau agar tidak ada lagi hakim yang melakukan pelanggaran Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH). Selain itu, KY juga harus memastikan peradilan semakin bersih dan baik.

“Terakhir, kami berpandangan bahwa independensi hakim dalam perkara ini harus tetap terjaga. Kasus ini perlu kemudian tuntas dengan baik,” tandas dia.

Kasus sate sianida sendiri menimpa keluarga Bandiman seorang pengemudi ojek online pada Minggu (25/4/2021) lalu selepas Ashar. Saat itu Bandiman baru selesai menunaikan sholat di Masjid Noor Islam, hingga kemudian seorang perempuan muda berusia antara 20-25 tahun menghampiri.

“Saat itu saya habis sholat Ashar istirahat di samping masjid, motor diparkir depan masjid. Ada cewek umur sekitar 20-25 tahun menghampiri dan tanya motor saya bukan. Dia bilang mau antar paket tapi jauh banget, minta tolong saya bisa atau tidak. Saya jawab bisa. Tapi dia bilang tidak punya aplikasi, dia bilang offline saja. Saya bilang ya saya mau membantu, ketika itu ongkosnya Rp 25 ribu dan dia memberi Rp 30 ribu, saya tidak punya kembalian lalu kata dia buat saya,” ungkapnya pada wartawan.

Paket yang kemudian diketahui berisi sate lontong tersebut ditujukan untuk pria bernama Tomi yang tinggal di Vila Griya Asri Kasihan Bantul dan perempuan itu menyebut paket berasal dari Pak Hamid. Bandiman kala itu tidak memiliki kecurigaan karena nama pengirim, alamat rumah dan nomor handphone yang dituju benar-benar ada.

Ia bahkan sempat menelpon Tomi tersebut saat berada di depan kediaman nomor FF 01 itu. Namun, saat itu menurut Bandiman, rumah dalam kondisi sepi dan Tomi sedang berada di luar kota.

“Bapak itu sempat telpon ibunya (istri) juga karena posisinya di luar kota. Saya tanya paketnya bagaimana. Lha paket sudah jelas nomor rumahnya, telponnya jelas, namanya jelas. Saya tanya paket mau saya kemanakan. Lalu dia bilang, yasudah buat bapak saja buat buka puasa, ya saya bawa balik,” sambung dia.

Usai adzan Maghrib berkumandang, Bandiman yang sudah tiba di rumah lantas berniat memakan sate lontong yang dibawanya. Sang anak yakni Naba Faiz baru tiba pula dari TPA dan membawa makan buka berupa gudeg.

“Kebetulan yang saya bawa itu sate. Lalu anak saya bilang, gudegnya buat bapak saja dan satenya buat saya. Saya sempat makan dua tusuk dan anak saya yang besar juga makan tidak apa-apa. Ternyata racunnya itu ada dibumbunya. Anak saya makan dioles di bumbu itu langsung lari ke dapur hoek-hoek. Istri saya yang nyoba juga begitu. Anak saya sudah jatuh di dapur. Sempat dioles-olesi oleh kakak saya tapi karena darurat langsung saya bawa ke rumah sakit. Itu di jalan nafasnya sudah satu-satu itu,” kenangnya.

Saat dibuka, bungkusan sate itu memang terpisah antara bumbu, lontong dan tusuk sate ayamnya. Diakui Bandiman, sang putra baru memakan sedikit, setengah sendok saja sebelum akhirnya muntah-muntah dan tak sadarkan diri di dapur.

“Saya makan dua tusuk saat itu. Adiknya makan baru setengah sendok katanya rasanya itu pahit, dia sempat minum lalu ke dapur sudah tidak sadar langsung ngglethak gitu. Ibunya makan dikit, tapi respon langsung muntah, nah anak saya minum dulu mungkin itu membuat menyebar. Di rumah sakit dokter bilang positif keracunan. Ibunya saat itu masih dirawat,” pungkasnya dengan berusaha tegar. (Fxh)


Tokoh

Partai

Institusi

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi