Gejala Gangguan Ginjal Akut pada Anak, Sulit Kencing hingga Air Seni Sedikit

21 October 2022, 20:38

MerahPutih.com – Kasus gangguan ginjal pada anak di Indonesia cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data per 21 Oktober 2022, jumlah kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) pada anak sebanyak 241 kasus yang tersebar di 22 provinsi. Sebanyak 55 persen dari jumlah kasus meninggal dunia atau 133 anak.
“Jadi meninggal Acute Kidney Injury (AKI) ini normal selalu terjadi. Cuma jumlahnya kecil, per bulan itu hanya satu atau dua, enggak pernah tinggi,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers Jumat (21/10).
Budi menuturkan, peningkatan kasus AKI ini mulai terjadi pada bulan Agustus 2022, naik sekitar 36 kasus AKI.
Adanya kenaikan kasus ini, kata Budi, sejak bulan September 2022, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan penelitian terkait penyebab AKI.

Baca Juga:
241 Kasus Gangguan Ginjal Akut pada Anak, 133 Meninggal Dunia

Budi menuturkan, kejadian tersebut menyerang balita usia di bawah 5 tahun.
Adapun gejala klinis dimulai dari demam dan kehilangan nafsu makan. Gejala spesifik dengan ginjal adalah tidak bisa membuang air kecil atau buang air kencingnya sedikit.
Budi menuturkan, pada bulan September 2022, pasien yang dibawa ke rumah sakit, rata-rata kondisi cepat memburuk.
Kondisi memburuk ini setelah dirawat 5 hari, kondisi pasien turun secara drastis. “Sehingga lebih dari 50 persen atau 55 persen meninggal dunia,” ucapnya.
Budi membeberkan tekanan yang dirasakan di fasilitas kesehatan menghadapi pasien gagal ginjal akut beberapa waktu terakhir.
“Ketika ada kenaikan kita mulai melakukan penelitian ini penyebab apa,” ungkap Budi.

Baca Juga:
Pemerintah Harus Pertimbangkan Status KLB Gangguan Ginjal Akut pada Anak

Semula Kemenkes menduga hal tersebut disebabkan oleh infeksi organisme kecil atau patogen.
Namun, kesadaran pihaknya baru terbuka setelah ada lonjakan kasus yang sama di Gambia, dan rilis dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).
“Yang membuat kita agak terbuka adalah karena ada kasus di Gambia, 5 Oktober WHO keluarkan rilis ada kasus dan ini disebabkan oleh senyawa kimia,” ungkap Budi.
Setelah itu, Kemenkes mulai melakukan pendalaman kembali dan menemukan kasus gagal ginjal akut itu diduga disebabkan senyawa Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) di atas ambang batas pada obat-obatan yang dikonsumsi.
Itu pun diketahui berdasarkan penelitian dengan mendalami keluarga pasien.
Budi menjelaskan senyawa EG dan DEG yang masuk ke tubuh berubah menjadi asam oksalat yakni zat yang berbahaya bagi tubuh.
“Kalau masuk ke ginjal bisa jadi kalsium oksalat. Kristal kecil yang tajam-tajam di ginjal balita sehingga rusak ginjalnya,” jelas Budi.
Atas dasar itulah, Budi menegaskan pihaknya mengambil kebijakan sementara untuk menyetop pemberian obat sirop kepada pasien.
“Jadi kita mengambil kebijakan yang sifatnya konservatif,” kata Budi.
Adapun sebagai bentuk kewaspadaan atas risiko gagal ginjal akut, Kemenkes sebelumnya telah menginstruksikan agar seluruh apotek yang beroperasi di Indonesia untuk sementara ini tidak menjual obat bebas dalam bentuk sirup kepada masyarakat.
Para tenaga kesehatan juga diminta tak lagi memberikan resep obat sirop kepada pasien. (Knu)

Baca Juga:
Menkes Klaim Obat Antidotum Ampuh Obati Pasien Gangguan Ginjal Akut

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi