Ditinggal Rusia Blok Migas Rakasa RI Ini Banyak yang Minat, Tapi..

12 February 2024, 20:50

Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa sampai saat ini belum ada investor yang serius dalam menggantikan posisi perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Rusia yakni Zarubezhneft di Blok Tuna, Kepulauan Natuna.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan, sampai saat ini belum ada operator pengganti yang serius untuk menggantikan posisi perusahaan basis Rusia tersebut untuk menggarap ‘harta karun’ migas di Blok Tuna bersama dengan Harbour Energy.
“Kalau buka data room sudah, tapi belum ada (potensi pengganti) yang serius. Belum ada yang serius betul masuk. Masih proses,” ujar Tutuka saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (12/2/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tutuka mengatakan, sejatinya sudah banyak perusahaan yang membuka data untuk melihat potensi Blok Tuna, namun dia mengungkapkan belum ada perusahaan yang serius akan menandatangani kontrak di Wilayah Kerja (WK) itu.
“Blok Tuna juga masih banyak (peminat) tapi belum ada yang serius mau sampai tanda tangan kontrak sampai komersialisasi,” tambahnya.
Di lain sisi, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto sempat menyebutkan bahwa saat ini pembukaan data room Blok Tuna tengah berlangsung. Adapun dari proses tersebut diketahui 14 perusahaan berminat untuk menggantikan perusahaan Rusia tersebut.
“Sebagian sudah ada yang menyampaikan penawaran dan ketertarikan, ada 14 perusahaan kalau gak salah,” kata Dwi di Gedung Kementerian ESDM, dikutip Senin (5/2/2024).

Dwi mengatakan, perusahaan yang tertarik tersebut berasal dari luar negeri. Mereka diberi tenggat waktu untuk menyampaikan keseriusannya hingga Maret 2024. “Mereka harus menyampaikan bulan Maret 2024, April keputusan menggantikan,” kata dia.
Sebelumnya, Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf mengungkapkan proses pencarian operator pengganti Zarubezhneft di Blok Tuna masih berlangsung.
Nanang pun berharap proses divestasi Zarubezhneft di Blok Tuna dapat segera tuntas pada tahun ini. Pasalnya, gas yang diproduksikan dari Blok Tuna sendiri telah memiliki calon pembeli dari Vietnam.
“Kalau gasnya nanti rencananya akan disalurkan ke Vietnam. Memang ada batas waktu ya, mudah mudahan di tahun ini selesai dari kepastian siapa,” ujar Nanang ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Selasa (2/1/2024).
Sebagaimana diketahui, Blok Tuna sendiri dioperatori oleh perusahaan asal Inggris Harbour Energy melalui Premier Oil Tuna B.V. Sementara Zarubezhneft sendiri merupakan perusahaan migas milik pemerintah Rusia yang memegang hak partisipasi sebesar 50% di Blok Tuna melalui anak usahanya, ZN Asia Ltd.
Beberapa waktu lalu, Nanang membeberkan rencana pengembangan Blok Tuna yang dikelola oleh perusahaan asal Inggris Harbour Energy melalui Premier Oil Tuna B.V. terimbas sanksi Uni Eropa dan pemerintah Inggris. Pasalnya, partner mereka di blok tersebut yakni Zarubezhneft berasal dari Rusia.
Oleh sebab itu, Zarubezhneft pun akhirnya memutuskan untuk hengkang dari proyek tersebut. Mengingat Harbour Energy telah diwanti-wanti oleh pemerintah setempat untuk tidak bertransaksi apalagi berpartner dengan perusahaan asal Rusia.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Rusia Hengkang dari RI, Waspada Proyek Terganggu!

(pgr/pgr)

Partai

Institusi

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi