Cara Sunan Bonang Sebarkan Islam Lewat Sastra

3 April 2022, 18:46

https: img.okezone.com content 2022 04 03 337 2572446 cara-sunan-bonang-sebarkan-islam-lewat-sastra-CRBjeN3hQ5.jpg

SUNAN BONANG merupakan salah satu Wali Songo yang turut berperan aktif menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Dalam menyiarkan ajaran agama Islam Sunan Bonang memiliki cara unik untuk menarik simpati masyarakat.

Wali Allah yang memiliki nama asli Raden Maulana Makhdum Ibrahim ini memilih media dakwah kesenian jadi bahannya. Sunan Bonang kerap menggunakan alat musik Jawa gamelan sebagai media dakwahnya.

 BACA JUGA:Jelmaan Utusan Majapahit, Misteri Pusaka Sunan Bonang

Tak hanya itu Sunan Bonang juga terkenal engan karya sastra berupa puisi mistikal yang disebut suluk. Sebagaimana dikutip dari buku “Sunan Bonang Wali Keramat : Karomah, Kesaktian, dan Ajaran-ajaran Hidup Sang Waliulllah beberapa suluk seperti Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Bentur, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Wasiyat, Gita Suluk Linglung, dan lain sebagainya.

Kedua Sunan Bonang juga membuat karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk seperti ini juga banyak dijumpai pada sastra Arab dan Persia.

 BACA JUGA: Cerita Sunan Bonang yang Mengubah Aliran Sungai Brantas saat Berdakwah

Primbon Sunan Bonang konon menjadi salah satu peninggalan sang waliullah ini. Primbon berisikan majmu’ah ilmu-ilmu fikih, ilmu kalam atau tauhid dan tasawuf atau pun akhlak dan tuntutan perilaku hidup saleh yang membawa kebahagiaan dunia akhirat.

Primbon Bonang berisikan ajaran hidup sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Pada primbon ini Sunan Bonang mengajak dan mengingatkan manusia agar berbuat kebaikan, melaksanakan segala perbuatan lahir yang diatur dengan syariat, dan perbuatan batin melalui tasawuf.

Primbon Bonang juga berisikan pemikiran al-Ghazali terutama tasawuf banyak mempengaruhi pemikiran Sunan Bonang. Bahkan Sunan Bonang secara terang-terangan menyebut nama kitab ihya Ulumuddin karya al-Ghazali sebagai salah satu kitab yang cukup banyak menginspirasi pemikiran-pemikiran tasawuf beserta ajaran-ajarannya.

Kitab Suluk Wijil juga menjadi bagian dari kitab yang memgisahkan seorang bujang yang diceritakan sebagai bekas budak dari Raja Majapahit, namun tidak disebutkan nama rajanya. Karya sastra ini menggambarkan suatu dialog antara guru dengan muridnya yang bernama Wujil. Di dalamnya berisikan jaran-ajaran itu berkaitan dengan ilmu kasampurnaan atau mistik.

Menariknya Suluk Wijil ditulis pada masa transisi Hindu ke Islam, maka Suluk Wijil mencerminkan hal-hal pemggambaran kehidupan budaya, intelektual, dan keagamaan di Jawa Timur yang sedang berada pada masa transisi keagamaan dari kepercayaan Hindu menuju kepercayaan islam.

Suluk Wijil ini memperlihatkan gaya bahasa yang tidak biasa dan terkesan aneh karena menggunakan bahasa Jawa madya yang memang pada saat itu tidak lazim, digunakan dalam penulisan tembang. Dari segi gaya puitika pun Sunan Bonang menggunakan gaya tembang Aswalita dan Dhandhanggula yang menyimpang dari patron penyair – penyair di zaman Hindu.

Dimana Suluk Wijil menitikberatkan pada hakiki seputar wujud dan rahasia terdalam ajaran Islam. Suluk Wijil dari ajaran agama Islam dan dipadu dengan pertanyaan metafisik yang esensial dan menggoda sepanjang zaman dan digandrungi oleh orang-orang terpelajar di masa itu.


https://nasional.okezone.com/read/2022/04/03/337/2572446/cara-sunan-bonang-sebarkan-islam-lewat-sastra?page=1

Tokoh

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi