Biden Hibur Korban Penembakan Texas, Pembatasan Senjata Tetap Kontroversial

30 May 2022, 11:04

Presiden AS Joe Biden memeluk Mandy Gutierrez, Kepala Sekolah di Robb Elementary School, tempat seorang pria bersenjata membunuh 19 anak dan dua guru dalam penembakan paling mematikan di sekolah AS dalam hampir satu dekade, saat ibu negara Jill Biden berdiri di sampingnya, di Uvalde, Texas, AS. 29 Mei 2022. REUTERS/Jonathan Ernst

TEMPO.CO, Jakarta – Presiden Joe Biden mencoba menghibur keluarga korban penembakan Texas di kota Uvalde pada hari Minggu setelah penembakan sekolah paling mematikan di negara itu dalam satu dekade. Sementara pemerintah federal mengumumkan mereka akan meninjau respons lambat penegak hukum setempat terhadap serangan itu.

Kemarahan telah meningkat atas keputusan penegak hukum di Uvalde yang dinilai membiarkan penembak massal tetap berada di ruang kelas selama hampir satu jam sementara petugas menunggu di lorong dan anak-anak di dalam ruangan membuat panggilan darurat 911 untuk meminta bantuan.

Presiden dan ibu negara Jill Biden menyeka air mata ketika mereka mengunjungi peringatan di Sekolah Dasar Robb di mana remaja bersenjata itu membunuh 19 siswa dan dua guru, meletakkan mawar putih dan memberi penghormatan untuk para korban.

“Lakukan sesuatu,” teriak massa di luar Gereja Katolik Hati Kudus ketika Biden keluar setelah menghadiri misa.

“Kami akan melakukannya,” kata Biden menjawab teriakan massa.

Keluarga Biden bertemu secara pribadi dengan keluarga korban dan penyintas selama beberapa jam sebelum kemudian bertemu secara tertutup dengan responden pertama.

“Kami berduka bersama Anda. Kami berdoa bersama Anda. Kami mendukung Anda. Dan kami berkomitmen untuk mengubah rasa sakit ini menjadi tindakan,” cuit Biden di sore hari sebelum mengakhiri kunjungannya.

Polisi mengatakan remaja bersenjata Salvador Ramos, yang berusia 18 tahun, memasuki sekolah pada hari Selasa, 24 Mei 2022, dengan senapan semi-otomatis AR-15 setelah sebelumnya menembak neneknya, yang menderita luka-luka.

Akun resmi tentang bagaimana polisi menanggapi penembakan itu telah berubah-ubah dengan liar. Departemen Kehakiman AS pada hari Minggu mengatakan akan meninjau tanggapan penegakan hukum setempat atas permintaan Walikota Uvalde Don McLaughlin.

“Saya merasa kasihan pada mereka karena mereka harus hidup dengan kesalahan karena hanya berdiam diri,” kata Julian Moreno, mantan pendeta di Primera Iglesia Bautista dan kakek buyut dari salah satu gadis yang terbunuh, tentang polisi Uvalde.

Kepala Patroli Perbatasan AS. Raul Ortiz, yang perwira taktisnya memimpin serangan yang akhirnya mengakhiri kebuntuan di sekolah, membela tindakan agensinya.

“Ketika agen saya mendapat telepon, mereka bergerak secepat mungkin,” kata Ortiz kepada Reuters, Minggu.

Komandan di tempat, kepala departemen kepolisian distrik sekolah, percaya pria bersenjata itu bukan lagi penembak aktif tetapi malah dibarikade di dalam dan bahwa anak-anak tidak lagi dalam bahaya, kata seorang pejabat negara bagian Texas pekan lalu.

Penembakan Uvalde sekali lagi menempatkan kontrol senjata di puncak agenda negara, beberapa bulan menjelang pemilihan paruh waktu November, dengan para pendukung undang-undang senjata yang lebih kuat berargumen bahwa pertumpahan darah terbaru merupakan titik kritis.

Biden, seorang Demokrat, telah berulang kali menyerukan reformasi besar pada undang-undang senjata Amerika tetapi tidak berdaya untuk menghentikan penembakan massal atau meyakinkan Partai Republik bahwa kontrol yang lebih ketat dapat membendung pembantaian tersebut.

Berikutnya: Sahabat korban jadi takut sekolah


https://dunia.tempo.co/read/1596432/biden-hibur-korban-penembakan-texas-pembatasan-senjata-tetap-kontroversial

Tokoh

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi