4 Pejuang Indonesia yang Tertangkap dan Dieksekusi Belanda, Nomor 3 Keturunan Korea

19 August 2022, 8:46

https: img.okezone.com content 2022 08 18 337 2650242 4-pejuang-indonesia-yang-tertangkap-dan-dieksekusi-belanda-nomor-3-keturunan-korea-IUZ51FJM7s.jpg

TIDAK melulu mulus, perjuangan para pahlawan Indonesia demi meraih dan mempertahankan Indonesia pasti menemukan hambatan. Banyak dari mereka yang kemudian tertangkap tentara Belanda, bahkan hingga dieksekusi mati.

(Baca juga: Gelora Robert Wolter Mongisidi: Biarkan Peluru Belanda Menembus Dadaku, Merdeka!)

1. Pocut Baren

Nama Pocut Baren terkenal sebagai pejuang perempuan asal Aceh yang setia mendampingi Cut Nyak Dhien dalam perjuangan melawan Belanda. Perempuan yang juga terkenal sebagai ulama dan panglima perang itu lahir di Kabupaten Aceh Barat pada 1880. Pocut mempunyai banyak pasukan atau pengikut dalam gerilyanya bersama Cut Nyak Dhien.

Di tengah perlawanannya itu, kaki Pocut terkena timah panas tentara Belanda. Ia lantas dibawa dan ditahan di Kutaraja. Meskipun begitu, anak-anak buah Pocut tetap semangat melakukan perjuangan. Sementara itu, Pocut tidak mendapat perawatan maksimal kala berada di dalam tahanan. Karenanya, kaki Pocut terpaksa diamputasi lantaran membusuk.

2. Opu Daeng Risadju

Pejuang Indonesia selanjutnya yang juga berhasil tertangkap Belanda adalah Famajjah atau yang lebih dikenal dengan nama Opu Daeng Risadju. Perempuan asal Palopo, Sulawesi Selatan ini aktif melakukan perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan kala NICA mendarat di Sulsel. Dirinya tercatat membantu dan memobilisasi pata pejuang muda untuk melakukan perlawanan terhadap NICA, hingga akhirnya tentara tersebut kerepotan.

Setelahnya, NICA menyadari bahwa Opu Daeng Risadju adalah orang yang membuat pihaknya kewalahan dan langsung berencana menangkap Opu Daeng Risadju namun tak pernah berhasil. NICA bahkan melakukan sayembara dengan menyediahkan hadiah bagi siapapun yang berhasil menangkap Opu Daeng Risadju, akan tetapi tetap saja tidak ada yang menggubris.

Sayangnya, lambat laun NICA mengetahui keberadaan Opu Daeng Risadju dan berhasil menangkapnya. Ia dibawa ke penjara Bone, lalu dipindahkan ke Sengkan, dan dipindahkan lagi ke Bajo. Di sana, Opu Daeng Risadju mendapat siksaan dari Ladu Kalapita, Kepala Distrik Bajo sampai mengalami tuli seumur hidupnya.

3. Komarudin (Yang Chil-seong)

Tidak hanya pribumi, pasukan pejuang yang ditangkap Belanda ada yang berasal dari Korea, yakni Yang Chil-seong atau Komarudin. Ia pertama kali menginjakan kaki di Indonesia, kala harus bekerja untuk Jepang sebagai penjaga tahanan perang di tahun 1942. Yang Chil-seong memilih untuk menetap di Indonesia usai kemerdekaan dan mengganti namanya menjadi Komarudin.

Ketika Belanda kembali datang untuk merebut kemerdekaan, Komarudin pergi ke Garut dan bergabung dengan kelompok Pasukan Pangeran Papak pimpinan Mayor SM Kosasih. Melihat kuatnya perjuangan yang dilakukan Komarudin dan pasukannya, Belanda merasa keteteran dan harus memadamkan perjuangan tersebut.

Jumlah pasukan Belanda yang jauh lebih besar dibanding pasukan Komarudin membuatnya mundur dan bersembunyi. Sayang, lokasi persembunyian Komarudin terdeteksi Belanda. Tanpa ampun, tentara Belanda mengeksekusi mati Komarudin pada 10 Agustus 1949

4. Robert Walter Mongisidi

Robert Walter Mongisidi adalah pahlawan Indonesia yang lahir di Manado, 14 Februari 1925. Oleh keluarganya, Robert biasa disapa Bote dan dikenal sebagai anak pemberani sejak dini. Selain itu, Bote juga memiliki kecerdasan, sikap pantang menyerah, dan jujur. Saat dewasa, Robert Walter Mongisidi berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ia memimpin gerakan perlawanan terhadap Belanda yang kala itu kembali datang ke Tanah Air, padahal negeri ini sudah mengumumkan kemerdekaannya. Robert Walter Mongisidi ditangkap Belanda pada 28 Februari 1947 di Makassar. Meskipun begitu, perjuangannya untuk mempertahankan kemerdekaan tak pernah pudar. Ia sekalipun tidak menyatakan menyerah atau mundur usai tertangkap. Terbukti, ia berhasil melarikan diri dari dalam penjara.

Akan tetapi, kebebasan Robert hanya bertahan 10 hari, sebelum akhirnya ia berhasil ditangkap kembali oleh Belanda. Kali ini, tentara Belanda menjatuhkan hukuman mati pada Robert dan dieksekusi pada 5 September 1949. “Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku, merdeka, merdeka, merdeka,” itulah kalimat terakhir yang diucapkan Robert Walter Mongisidi sebelum kehilangan nyawa.


https://nasional.okezone.com/read/2022/08/18/337/2650242/4-pejuang-indonesia-yang-tertangkap-dan-dieksekusi-belanda-nomor-3-keturunan-korea?page=1

Tokoh

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi